Graha Mas Blok C-18, Jl. Raya Pejuangan, Kebon Jeruk, Jakarta Barat 11530. Telp: (021) 5301390, 5481608. Fax: 5485523 (Lab), 5302107 (Mkt). info@abclab.co.id

Jenis Pemeriksaan

Hotline

Customer Service :
Telepon. (021) 530-1390
Telepon. (021) 548-1608

Online Service

Online CS 1 :

YM | Web YM
Online CS 2 :

YM | Web YM

Link Afiliasi

Lipoprint : Cara Untuk Analisis Pola Lipid Darah

Penulis : Prof. Marzuki Suryaatmadja

Pada beberapa tahun terakhir ini telah diperkenalkan cara untuk memisahkan subfraksi lipoprotein dengan metode elektroforesis menggunakan jel poliakrilamid (polyacrylamide gel). Salah satu cara adalah dari Quantimetrix yang dikenal sebagai Lipoprint. Dengan cara ini dapat dipisahkan 12 fraksi, dimana ada 7 subfraksi LDL. Dengan demikian dari pola subfraksi lipoprotein yang dihasilkan dapat ditafsirkan dan dilaporkan apakah risiko rendah atau tinggi.

Analisis Lipid Darah Sebagai Faktor Risiko Penyakit Jantung dan Pembuluh Darah

Penulis : Prof. Marzuki Suryaatmadja

Kelainan lipid darah (dislipidemia) telah diakui sebagai salah satu faktor risiko utama penyakit jantung koroner (PJK) atau penyakit kardiovaskular (PKV) atau aterosklerosis pada umumnya. Analisis lipid darah merupakan salah satu panel pemeriksaan laboratorium yang paling sering diminta dan sudah merupakan bagian penting dari panel atau paket pemeriksaan kesehatan (medical check-up) Dalam perkembangannya telah terjadi pergeseran parameter dan juga cara analisis lipid darah untuk mencapai tingkat ketepatan yang terbaik. Pada artikel ini akan dibahas perkembangan analisis lipid sebagai upaya deteksi dini penyakit jantung koroner

Faktor-faktor Risiko Penyakit Jantung dan Pembuluh Darah

Penulis : Prof. Marzuki Suryaatmadja

Dalam beberapa decade belakangan ini angka kematian oleh karena penyakit kardiovaskular terus meningkat dan kini penyakit ini telah merupakan penyebab utama kematian untuk penduduk usia diatas 45 tahun di seluruh dunia. Hal ini dijumpai tidak hanya di negara industri atau negara maju tetapi juga di negara berkembang seperti di Indonesia. Di Indonesia berdasarkan sensus kesehatan rumah tangga (SKRT) yang dilakukan tiap 4 tahun, sejak tahun 1992 penyakit jantung koroner sudah menduduki peringkat nomor satu. Sampai dengan sensus terbaru peringkat ini masih tetap dipegang oleh penyakit kardiovaskular.