Download brosur cystatin

Mengapa uji fungsi ginjal penting?
Ginjal merupakan salah satu organ yang vital bagi tubuh. Uji fungsi ginjal bertujuan untuk mendeteksi adanya gangguan dan mengukur fungsi ginjal. Pemeriksaan ini merupakan pemeriksaan penting yang selalu diperiksa untuk mengetahui kesehatan seseorang. Pemeriksaan ini juga diindikasikan untuk pemantauan pengobatan penyakit ginjal, penentuan dosis obat, pemberian zat kontrast, persiapan operasi transplantasi ginjal.

Pemeriksaan uji fungsi ginjal yang manakah yang perlu dilakukan?
Ada banyak fungsi ginjal sehingga juga ada banyak uji yang dapat dilakukan. Namun yang dianggap mewakili fungsi ginjal secara keseluruhan adalah uji laju filtrasi glomeruli (glomerular filtration rate = GFR). Untuk mengukur GFR in uji yang terbaik adalah uji bersihan inulin (inulin clearance test) atau dengan isotop radioaktif namun semua uji ini tidak praktis untuk dikerjakan secara rutin. Sebagai penggantinya yang lebih umum adalah uji bersihan kreatinin (creatinine clearance test = CCT)..

Bagaimanakah melakukan uji bersihan kreatinin?
Uji ini dilakukan dengan cara menampung urin selama 24 jam untuk diukur kadar kreatinin urin dan volum urin 24 jam, juga disertai pemeriksaan kadar kreatinin darah. Untuk mendapatkan hasil CCT seseorang maka dilakukan pula pengukuran tinggi badan dan berat badan pasien untuk mendapatkan luas permukaan tubuh. Luas permukaan tubuh ini dibakukan pada 1,73 m2. Nilai rujukan untuk orang dewasa adalah 97-137 mL/menit.

Apakah uji bersihan kreatinin praktis dan dapat diandalkan?
Uji ini memerlukan penampungan urin selama 24 jam sehingga merepotkan dan sering tidak dilakukan dengan benar. Juga pengukuran kadar kreatinin darah dipengaruhi oleh massa otot, jenis kelamin, usia, dan faktor-faktor lain. Oleh karena itu uji ini sering diubah dan disederhanakan menjadi pengukuran kadar kreatinin darah saja dengan dikoreksi dengan berat badan, jenis kelamin, ras, dan lain-lain menggunakan berbagai rumus. Meskipun demikian hasil perhitungan tetap dibatasi oleh banyak faktor. Selain itu kadar kreatinin darah baru naik bila fungsi ginjal menurun lebih dari 50%.

Uji fungsi ginjal mana yang baik ?
Sejak belasan tahun yang lalu telah dikembangkan uji pengukuran kadar Cystatin C yang dianggap lebih baik daripada kreatinin. Namun demikian uji ini belum popular sebab pemeriksaannya terbatas, harus menggunakan metoda dan alat tertentu dan biayanya relatif mahal. Sekarang ini parameter baru ini sudah dapat diperiksa dengan metoda yang dapat diterapkan pada alat pengukur otomatis sehingga dapat diperiksa dengan lebih mudah dan baik.

Apakah Cystatin C?
Cystatin C (CysC) adalah anggota superfamili penghambat enzim protease cystein dengan berat molekul rendah (13 kDa). Senyawa ini diproduksi secara tetap oleh semua sel berinti, mengalami filtrasi di glomeruli ginjal, diserap kembali di tubuli ginjal kemudian dirusak (dikatabolisis) sehingga tidak kembali ke darah, juga tidak disekresi oleh tubuli ginjal.

Bagaimanakah Cystatin C sebagai uji fungsi ginjal?
Sebagai zat endogen (yang dihasilkan oleh sel tubuh sendiri) maka CysC aman. Kadar CysC darah mencerminkan fungsi ginjal, bahkan penurunan yang ringan (subklinis) sehingga dianggap lebih baik daripada kreatinin darah sebagai parameter fungsi ginjal pada penyakit ginjal kronis. Meskipun ada data bahwa kadar CysC darah dipengaruhi juga oleh usia, jenis kelamin, massa otot, merokok dan radang tetapi pengaruhnya tidak sebesar pada kreatinin; mengenai hal ini masih diperlukan studi lebih lanjut.

Manfaat lain apakah dari pemeriksaan kadar Cystatin C?
Selain untuk penyakit ginjal kronis, kadar CysC juga dapat menunjukkan gangguan fungsi ginjal pada keadaan akut, acute kidney injury (AKI), asalkan diperiksa dalam 24 jam setelah jejas. Selain itu kadar CysC darah mencerminkan risiko penyakit kardiovaskular.

Bagaimanakah penafsiran kadar Cystatin C?
Nilai rujukan kadar CysC darah dapat berbeda antar laboratorium. Di Cleveland Clinic (USA), nilai rujukan untuk orang tanpa gangguan fungsi ginjal: usia < 65 tahun 0,50 – 1,12 mg/L, bila usia > 65 tahun 0,55 – 1,21 mg/L. Nilai >1,25 mg/L mengindikasikan GFR <58 mL/menit (gangguan derajad sedang). Pada pasien dengan sindrom koroner akut nilai >1.25 mg/L menunjukkan risiko relatif (RR) 11,7x untuk kematian dibandingkan pasien dengan nilai <0,83 mg/L, pada orang tua (usila) dengan nilai >1,29 mg/L menunjukkan risiko (hazard ratio) 2.27 untuk kematian karena penyebab kardiovaskular. Ada pula nilai rujukan untuk anak.

Apakah yang perlu dipersiapkan untuk memeriksa Cystatin C darah?
Pemeriksaan darah dapat dilakukan tanpa persiapan. Bila diperiksa dengan metoda imunoturbidimatrik serum tidak boleh keruh sehingga disyaratkan puasa namun Laboratorium ABC menggunakan metoda Fluorescent Enzyme Immunoassay (FEIA) yang tidak dipengaruhi oleh kekeruhan serum dan karenanya tidak perlu puasa.

Rujukan:

  1. Dharnidharka VR, Kwon C, Stevens G. Serum Cystatin C is superior to serum creatinine as a marker of kidney function: a Meta-analysis. Am J Kidney Dis 2002; 40: 221-6.
  2. Curhan G. Cystatin C: A Marker of renal function or something more? Clin Chem 2005; 51 (2): 293-4.
  3. Shlipak MG, Sarnak MJ, Katz R, et al. Cystatin C and the risk of death and cardiovascular events among elderly persons. N Engl J Med 2005;352:2049-60.
  4. Westhuyzen J. Cystatin C: a promising marker and predictor of impaired renal function. Ann Clin Lab Science 2006; 36 (4): 387-94.
  5. Chew JSC, Saleem M, Florkowski CM, George PM. Cystatin C – A paradigm of evidence based laboratory medicine. Clin Biochem Rev 2008; 29 (5): 47-62.
  6. Taglieri N, Koenig W, Kaski JC. Cystatin C and cardiovascular risk. Clin Chem 2009; 55 (11): 1932 – 43.
  7. Zhang ZH, Lu BL, Sheng XY, Jin N. Cystatin C in Prediction of Acute Kidney Injury: A Systemic Review and Meta-analysis. Am J Kidney Dis 2011; 58 (3): 356–365.