Human Papilloma Virus

Kanker Serviks

Kanker serviks merupakan salah satu tumor ganas tersering yang ditemukan di seluruh dunia maupun di Indonesia. Data Globocan 2008 menyebutkan setiap 2 menit terdapat 1 orang perempuan di Indonesia meninggal dunia karena kanker serviks, namun kanker serviks merupakan penyakit yang dapat dicegah apabila dapat dideteksi secara dini.1

 

cervical cancer

Penyebab Kanker Serviks : Human Papilloma Virus (HPV)

Lebih dari 99% kasus kanker serviks sangat berhubungan erat dengan infeksi persisten dari Human Papilloma Virus (HPV), yang salah satunya dapat melalui hubungan seksual. Data menunjukkan bahwa angka infeksi HPV dijumpai pada usia 35-44 tahun dan di atas 54 tahun. Oleh karena itulah deteksi dini pemeriksaan pap smear yang dilanjutkan dengan pemeriksaan HPV sangat penting untuk pencegahan kanker serviks.2

Saat ini sekitar 100 subtipe HPV telah diidentifikasi, 40 subtipe di antaranya spesifik mengenai area anus dan kelamin. Berdasarkan kekuatannya dalam menyebabkan kanker serviks (oncogenic potential), HPV dapat diklasifikasikan menjadi high risk dan low risk group, antara lain low risk HPV (6, 11, 40, 42, 54, 55, 61, 64, 67, 69, 70, 72) dan high risk HPV (16, 18, 31, 33, 35, 39, 45, 51, 52, 53, 56, 58, 59, 66, 68, 73, 82). High risk HPV berkaitan dengan keganasan pada serviks.3

Deteksi Dini Kanker Serviks

Kanker serviks memiliki suatu lesi prekanker yang dapat dideteksi melalui pemeriksaan sitologi dari sel-sel serviks yang terlepas yang dikenal sebagai pemeriksaan pap smear (Papanicolaou smear). Pemeriksaan ini merupakan metode skrining yang efektif dalam menurunkan angka kesakitan dan kematian pada kanker serviks. Walaupun demikian pemeriksaan ini masih dianggap memiliki sensitifitas yang rendah sehingga kombinasi dengan pemeriksaan HPV genotyping dapat meningkatkan sensitifitas deteksi dini yang lebih baik.

HPV

 

Beberapa hal yang harus diperhatikan sebelum melakukan tes :

• Hindari penggunaan obat vaginal atau spermisida 3 hari sebelum tes

• Hindari hubungan suami-istri 24 jam sebelum tes

• Jangan melakukan tes pada saat datang bulan

• Apabila mengalami sekresi vagina yang berlebihan, konsultasikan dengan dokter

 

Pertanyaan umum :

Tanya : Kapan saya harus melakukan pemeriksaan HPV genotyping?

Jawab : Bila hasil pap smear abnormal atau hasil pap smear normal namun ada permintaan dari dokter klinik.

Tanya : Bagaimana caranya pemeriksaan HPV genotyping dikerjakan?

Jawab : Pemeriksaan HPV genotyping dapat dikerjakan bersamaan dengan pemeriksaan pap smear, dengan sampel sitologi serviks berbasis cairan (Liquid Base Cytology – LBC)

Tanya : Apakah saya memerlukan 2 kali pengambilan sampel untuk pemeriksaan pap smear dan HPV genotyping?

Jawab : Tidak. Dokter hanya melakukan satu kali pengambilan sampel untuk kedua pemeriksaan tersebut.

Tanya : Perlukah saya melakukan tes HPV genotyping berbarengan dengan pap test/pap smear setelah vaksinasi kanker serviks?

Jawab : Ya. Vaksin HPV yang beredar pada saat ini baru bekerja pada high risk HPV tipe 16 dan 18 sehingga pemeriksaan berkala sangat diperlukan untuk pencegahan kanker serviks.

Tanya : Apakah deteksi pemeriksaan HPV tipe 16 dan 18 saja sudah cukup dalam rangkaian deteksi dini kanker serviks?

Jawab : Belum, karena tipe HPV high risk itu banyak, tidak hanya tipe 16 dan 18, dan semuanya berpotensi dalam menyebabkan kanker serviks. Sehingga sebaiknya dilakukan pemeriksaan HPV genotyping yang mencakup banyak tipe HPV

Tanya : Apa keunggulan pemeriksaan HPV Genotyping di Lab ABC?

Jawab: Kami dapat mendeteksi 33 subtype :

pic 3

Kualitas dari reagen kami juga terjamin Karena lulus proficiency test WHO (Labnet) 100%.

 

diagram

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

clear formSubmit