Penyakit apakah yang disebabkan oleh kedua bakteri tersebut?

Chlamydia trachomatis (CT) adalah bakteri batang Gram-negatif yang obligat intraselular. Ia merupakan kuman penyebab radang mata trachoma dan juga menginfeksi epitel kolumnar serviks, merupakan STD (Penyakit Menular Seksual = PMS) tersering.

Neisseria gonorhoeae (NG) adalah bakteri diplokokus Gram-negatif yang merupakan kuman penyebab penyakit infeksi yang lebih dikenal sebagai Gonorea (GO). Kuman ini menyebabkan radang dengan pembentukan nanah (purulen)  pada selaput lendir di kelamin (uretra, serviks), usus rektum, mata, dan kerongkongan.
Penyakit ini ditularkan melalui hubungan seksual (Sexually Transmitted Disease = STD), juga sekitar proses melahirkan (transmisi perinatal) dan infeksi mata bayi baru lahir (neonatus).

CT dan NG sering terdapat bersama (koinfeksi) karena pola penularannya hampir sama dan keduanya merupakan bakteri penyebab STD yang paling sering ditemui di dunia).

Bagaimanakah perjalanan penyakit infeksi keduanya?

Infeksi CT : Masa inkubasi 1-3 minggu. Pada 50% laki-laki dan pada 80%  perempuan infeksi tanpa gejala. Bila ada gejala maka dapat dilihat keluarnya getah bernanah (purulen).

Infeksi NG : Setelah masa inkubasi selama 2-5 hari, timbul gejala nyeri disertai keluarnya nanah pada radang uretra (uretritis) pada laki-laki dan radang endoserviks (endoservisitis) pada perempuan. Namun pada radang uretra  perempuan, radang kerongkongan (faring) dan rektum (bagian usus di belakang anus) seringkali tanpa gejala.

Komplikasi apakah yang dapat diakibatkan oleh infeksi keduanya?

Apabila tidak diobati dengan baik maka CT dapat menyebabkan kebutaan, uretritis, endoservisitis, proktitis, dan epididimitis.  Penyebarannya dapat menimbulkan penyakit radang pelvis (pelvic inflammatory diseases = PID) serta infertilitas. Ada bentuk lain berupa pembesaran kelenjar limfogranuloma venereum (LGV).

mata

Gambar 1. Radang konjungtiva mata oleh C. trachomatis, salah satu
penyebab terbanyak terjadinya kebutaan di negara berkembang.

NG yang tidak diobati dapat menyebar antara lain ke sendi-sendi, juga hampir sama dengan pada infeksi CT ke alat kelamin dalam dan organ-organ lain.  NG juga dapat menyebabkan infertilitas dan kebutaan.

gbr 2

Gambar 2.  Pada Perempuan kebanyakan GO tidak menimbulkan gejala. Pada Laki-laki kebanyakan GO menyebabkan uretritis akut, sebagian kecil dengan epididimitis dan lebih sedikit yang menjadi infeksi sistemik.

Mengapa penting untuk dapat mendeteksi adanya kedua bakteri tersebut?

Infeksi CT dan NG dapat bersifat akut yang jelas gejalanya dan juga yang kronis tanpa gejala yang jelas (silent/asimtomatis). Pada keadaan yang kedua tersebut terutama pada perempuan yang sering tidak menunjukkan gejala, pasien tidak merasa perlu berobat dan penyakit terus menyebar dengan berbagai penyulit komplikasi. Oleh karena itu amat dianjurkan untuk segera diperiksa dengan cara yang sensitif agar dengan deteksi dini dapat segera didiagnosis dan diberikan pengobatan sebelum timbul penyulit komplikasi.

Bagaimanakah diagnosis laboratorium (deteksi) keduanya ?

Terhadap CT : Bila gejala jelas dan didapat getah maka dapat dilakukan pemeriksaan mikroskopi terhadap sediaan getah atau sedimen urin.  Biakan sel baik tetapi kurang sensitif dan sulit untuk dilakukan karena sifat CT yang obligat intraseluler, dimana membutuhkan sel eukariotik untuk berkembang biak. Ada pula uji Antibodi fluoresen ganda, EIA, atau deteksi Ag langsung namun cara-cara tersebut kurang praktis, kurang sensitif,  mahal dan kurang dianjurkan lagi.

20m

Gambar 3. Mikrograf cahaya fluoresen dari sel manusia (merah) yang terinfeksi oleh C. trachomatis (hijau)

Terhadap NG: Pada uretritis pada laki-laki dan endoservisitis pada perempuan dengan gejala jelas maka dapat dilakukan pemeriksaan mikroskopi terhadap sediaan getah yang didapat. Dengan pewarnaan Gram maka dapat ditemukan adanya diplokokus Gram-negatif baik intraselular dan ekstraselular neutrofil segmen. Juga dapat dilakukan biakan menggunakan media khusus untuk deteksi dan identifikasi kuman dan bila perlu juga uji kepekaan terhadap obat antibiotika. Namun cara tersebut tingkat keberhasilannya berbeda-beda tergantung akut/kronis, lokasi, resistensi terhadap antibiotika dan faktor-faktor lain.

Gonococcal_urethritis_PHIL_4085_lores

Gambar 4A. NG: Sediaan pewarnaan Gram

Neisseria_gonorrhoeae_01

Gambar 4B. Media biakan NG

Oleh karena cara-cara tersebut di atas masih belum memuaskan dan masih banyak kasus yang gagal dideteksi maka dikembangkan cara-cara baru sejalan dengan perkembangan teknologi pemeriksaan. Cara baru yang dianggap paling baik adalah Uji Penggandaan Asam Nukleat (Nucleic Acid Amplification Test = NAAT) dengan cara Polymerase Chain Reaction (PCR).

Apakah yang dimaksudkan Deteksi dengan cara PCR Real-time?

Cara PCR Real Time mencakup amplifikasi selektif dari sekuens sasaran sambil memantau perkembangan amplifikasinya pada waktu yang sama (Real-time) melalui bahan visualisasi zat warna fluoresen. Kekhasan (spesifisitas) hasil dijamin dengan pasangan primer yang spesifik, bersamaan dengan hidrolisis probe yang juga mempunyai sekuens spesifik. Pemantauan produk hasil amplifikasi dilakukan dengan melabel probehidrolisis dengan pasangan pelapor (reporter) zat warna fluoresen (5’-Fluorescent reporter; 3’-Quencher) yang sesuai (matched). Probe yang utuh tidak menghasilkan sinar, tetapi setelah dipecah oleh keaktifan eksonuklease 5’-3’ dari polimerase DNA selama proses PCR, molekul pelapor fluoresen akan memancarkan sinar dengan panjang gelombang yang khas dalam spektrum yang dapat dilihat (FAM, 520 nm; Texas Red, 610 nm) setelah berikatan dengan amplicon.

Kit Bioneer yang dipakai oleh Laboratorium Klinik Utama ABC telah menggunakan cara dan bahan-bahan yang terbaik untuk memberikan hasil yang optimal.

pic3

Gambar 5A. PCR-Real Time

gbr 5B

Gambar 5B. Contoh CT positif

gbr 5C

Gambar 5C. Contoh NG positif

Keunggulan cara uji ini dibandingkan dengan uji mikroskopis adalah bahwa pada cara PCR ini tidak diperlukan adanya kuman utuh yang hidup seperti yang diperlukan pada biakan tetapi cukup adanya bagian yang spesifik dari untaian DNA bakteri. Dengan demikian pencapaian hasil deteksi menjadi lebih tinggi (lebih sensitif) dan juga spesifik. Juga deteksi kedua jenis bakteri tersebut CT dan NG dapat dikerjakan sekali jalan.

Apakah bahan spesimen pemeriksaannya, bagaimanakah cara pengambilan serta pengirimannya ke Lab ABC?

Untuk pemeriksaan kedua CT dan NG, bahan spesimen dapat berupa urin (sebaiknya urin pertama pagi), swab uretra, swab endoserviks, swab kojungtiva mata dan swab dari tempat-tempat lain.

Pengambilan spesimen sebaiknya sebelum pemberian antibiotika. Secepatnya spesimen dikirim ke laboratorium dalam kantong biohazard (benda berbahaya) yang tahan goncangan agar infeksi tidak menyebar.  Spesimen tahan selama 7 hari pada suhu 2-8 oC; bila perlu lebih lama perlu disimpan pada suhu -20 oC.

 

Daftar Pustaka

  1. Ryan KJ (Ed). Sherris Medical Microbiology. 7th ed, New York: Mc Graw-Hill Education, 2018.
  2. Murray PR, Rosenthal KS, Pfaller MA. Medical Microbiology, 8ed, Philadelphia: Elsevier, 2016 pp 235-9, 347-53.
  3. Meyer T. Diagnostic procedures to detect Chlamydia trachomatis infections. Microorganisms 2016;4:25-34.
  4. Ham JY, Jung JA, Hwang BG, Kim WJ, Kim YS, Kim EJ, et al. Highly sensitive and novel Point-of-Care System, aQcare Chlamydia TRF Kit for detecting Chlamydia trachomatis by using Europium (Eu) (III) chelated nanoparticles. Ann Lab Med 2015;35:50-56.http://dx.doi.org/10.3343/alm.2015.35.1.50
  5. AccuPower® CT & NG Real-Time PCR Kit – User’s Guide, Version No 3.0 (2014-05), Bioneer Corp.Republic of Korea.
  6. Choi JY, Cho IC, Lee GI, Min SK. Prevalence and associated factors for four sexually transmissible microorganisms in middle-aged men receiving general prostate health checkups: A polymerase chain reaction based study in Korea. Korean J Urol 2013;54:53-8.
  7. Dhawan B, Rawre J, Ghosh A, Malhotra N, Ahmed MM, Sreenivas V, Chaudhry  Diagnostic efficacy of a real time-PCR assay for Chlamydia trachomatis infection in infertile women in north India. Indian J Med Res. 2014;140(2): 252-61.
  8. Crotchfelt KA, Welsh LE, Debonville D, Rosenstraus M, Quinn TC. Detection of Neisseria gonorrhoeae and Chlamydia trachomatis in genitourinary specimens from men and women by a coamplification PCR Assay. J Clin Microbiol 1997;35 (6):1536-40.

 —ooomsooo—

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

clear formSubmit