Graha Mas Blok C-18, Jl. Raya Pejuangan, Kebon Jeruk, Jakarta Barat 11530. Telp: (021) 5301390, 5481608. Fax: 5485523 (Lab), 5302107 (Mkt). info@abclab.co.id

Jenis Pemeriksaan

Hotline

Customer Service :
Telepon. (021) 530-1390
Telepon. (021) 548-1608

Online Service

Online CS 1 :

YM | Web YM
Online CS 2 :

YM | Web YM

Link Afiliasi

Aterosklerosis Dan Penyakit Karbiovaskular

Pendahuluan

Selama beberapa dekade terakhir ini banyak kita dengar, baca dan saksikan penderita dengan serangan jantung koroner, serangan kelumpuhan karena gangguan aliran darah otak (stroke) ataupun gangguan aliran darah tungkai. Kesemuanya termasuk penyakit kardiovaskular. Penyebabnya adalah proses “pengapuran”, “pengerasan” pembuluh darah nadi yang dikenal sebagai aterosklerosis (atherosclerosis).
Pada artikel ini akan dijelaskan proses aterosklerosis, penyakit kardiovaskular dan uraian singkat pengelolaannya.

Aterosklerosis

Aterosklerosis merupakan perubahan dinding pembuluh darah nadi (arteri) yang secara populer disebut proses “pengerasan” atau “pengapuran”. Proses ini berlangsung secara lambat; dipercayai bahwa proses yang dianggap sebagai proses penuaan ini sebenarnya sudah dimulai pada usia belasan tahun. Hal ini dibuktikan dari hasil otopsi, bedah jenazah.

Proses terus berlangsung selama beberapa dekade dan biasanya ditemukan bila sudah menimbulkan gejala atau secara kebetulan pada pemeriksaan kesehatan.

Proses ateros klerosis dapat dibedakan dalam beberapa tahap. Umumnya dibagi dalam 3 tahap, yaitu tahap pembentukan kerak lemak (fatty streak), pembentukan plak jaringan ikat (fibrous plaque) dan lesi majemuk (complicated lesion).

Pada tahap pembentukan kerak lemak, dimulai dengan masuknya lipoprotein densitas rendah (low density lipoprotein = LDL) dari lumen pembuluh darah nadi melewati lapisan sel dinding (endotel) dan kemudian mengalami oksidasi. Perubahan ini akan merangsang aktivitas beberpa molekul di dinding untuk menarik sel darah monosit masuk ke dinding pembuluh darah melalui endotel. Di dalam dinding monosit berubah menjadi makrofag yang akan memakan LDL yang teroksidasi tersebut. Makin banyak molekul LDL yang “dimakan” oleh makrofag menyebabkan makrofag penuh dengan LDL yang disebut dengan sel busa (foam cell). Kumpulan sel busa membentuk kerak lemak.

Pada tahapan berikutnya terjadi penambahan jaringan ikat dan juga perpindahan sel otot polos pembuluh darah dari lapisan tengah ke lapisan dalam dinding pembuluh darah. Penambahan ini akan menyebabkan terbentuknya plak yang menyebabkan penyempitan lumen pembuluh darah nadi. Makin lama penyumbatan makin berat dan lumen makin kecil, disebut sebagai tahap pembentukan plak. Selanjutnya plak makin majemuk dengan penambahan kalsium, terdapat pula sel darah limfosit dan berbagai unsur lain, dapat mengalami sobekan, perdarahan, dan lain-lain, merupakan tahap lesi majemuk.

Proses aterosklerosis dapat mengenal pembuluh darah nadi berbagai organ misalnya arteri koroner yang memperdarahi otot jantung (miokard), pembuluh darah nadi leher utama yang memperdarahi otak (arteri karotis) dan pembuluh darah nadi tungkai.

Penyakit Kardiovaskular

Kelompok penyakit ini meliputi penyakit jantung koroner (PJK), penyakit gangguan pembuluh darah otak (stroke) ataupun gangguan aliran darah tungkai biasanya tungkai bawah.

Penyakit jantung koroner (PJK) terjadi karena proses aterosklerosis. Yang menyebabkan penyempitan lumen pembuluh darah koroner (stenosis arteri koroner). Penyempitan tersebut menyebabkan gangguan aliran darah sehingga dapat terjadi kekurangan pasokan zat asam (oksigen = O2) bagi sel otot jantung (miosit, miokard) yang menerima darah dari pembuluh darah yang terkena. Bila pada suatu keadaan terjadi kebutuhan oksigen yang meningkat misalnya pada kerja fisik maka kemungkinan terjadi kekurangan jumlah oksigen yang diperlukan tersebut. Akibatnya timbul rasa nyeri dada (angina pectoris) yang menyebabkan pasien perlu beristirahat dan membatasi kerja fisik.

Pada suatu saat dapat pula terjadi suatau serangan nyeri mendadak. Biasanya karena adanya suatu faktor pencetus baik berupa kerja fisik, emosi (marah atau stress psikis) ataupun peningkatan tekanan darah dan lain-lain. Bila nyeri dada tidak hilang pada waktu istirahat, maka kemungkinan keadaan yang lebih berat daripada angina stabil yang disebut angina tidak stabil (unstable angina). Pada keadaan yang lebih berat lagi dapat terjadi kematian sel otot jantung yang kekurangan pasokan oksigen, dikenal sebagai infark miokard akut (acute coronary syndrome).

Pada sindroma koroner akut ini terjadi sobekan di suatu bagian dari kapsul yang melapisi plak, biasanya di daerah bahu dari kapsul tersebut. Sobekan tersebut menyebabkan terjadi kontak langsung antara darah dengan bagian dalam plak. Terjadilah pembentukan bekuan darah yang dikenal sebagai trombus. Trombus ini dapat menyumbat lumen pembuluh darah baik sebagian maupun seluruhnya (total). Penyumbatan lumen ini menyebabkan pasokan darah berkurang secara mendadak. Bila penyumbatan lengkap maka otot jantung yang memerlukan pasokan oksigen akan rusak dan terjadilah infark miokard akut sampai kematian. Berdasarkan hasil pemeriksaan rekam listrik dan terjadilah infark miokard akut sampai kematian. Berdasarkan hasil pemeriksaan rekam listrik jantung (elektrokardiografi = EKG) infark miokard akut sering pula dibedakan antara yang non-STEMI (ST elevated myocardial infraction) yang lebih ringan dan yang STEMI yang lebih berat.

Pasien dengan sindroma koroner akut perlu secepat mungkin dibawa ke rumah sakit yang mempunyai sarana dan tenaga medis terlatih untuk mendapatkan tindakan pengobatan dan perawatan yang terbaik. Dengan pemeriksaan yang meliputi fisik, elektrokardiografi dan laboratorium (petanda jantung, cardiac marker), yang sering perlu dilakukan secara serial tiap 6-12 jam, dipastikan dahulu diagnosanya. Bila memang terdapat sindroma koroner akut maka pasien perlu masuk perawatan intensif. Bila ada infark miokard akut maka perlu diusahakan membuka kembali pembuluh darah tersebut, bila sumbatan dapat dipulihkan maka bahaya dapat diatasi. Makin cepat sumbatan dapat dihilngkan maka makin besar pula kemungkinan untuk kembali pada keadaan yang terbaik. Bila lambat maka mungkin sekali tidak tertolong atau dapat tetap hidup tetapi dengan kecacatan. Waktu kritis untuk dapat melarutkan sumbatan trombus dengan obat (trombolisis) adalah 4-6 jam setelah serangan. Pengolahan terdiri dari tindakan, obat-obatan maupun perawatan bukan obat; rehabilitas fisik dan kejiwaan secara dini juga perlu diberikan. Peran dukungan keluarga amat membantu pemulihan.

Penyakit gangguan pembuluh darah otak (stroke) dapat dibedakan antara stroke yang disebabkan proses perdarahan (hemoragik) atau yang disebabkan kekurangan pasokan darah (nonhemoragik = iskemia). Stroke karena iskemia terjadi bila ada penyumbatan pembuluh darah nadi yang menyebabkan pasokan darah ke suatau bagian otak yang diperdarahi oleh pembuluh darah nadi tersebut berkurang sampai terhenti. Kematian bagian otak tersebut akan menyebabkan gejala kerusakan saraf yang mempengaruhi kesadaran, fungsi luhur (daya ingat, daya tangkap untuk mengerti, kemampuan untuk bicara, dan lain-lain) dan fungsi organ. Sumbatan dapat terjadi karena banyak proses antara lain penyempitan karena otot pembuluh darah (spasme), atau sering sekali karena adanya bekuan darah yang dibawa oleh aliran darah dari tempat di luar otak misalnya dari jantung atau pembuluh darah nadi di leher (arteri karotis), dikenal sebagai emboli. Pengelolaan serangan stroke iskemik akut sebaiknya di rumah sakit, terbaik di rumah sakit yang sudah memiliki saran dan tenaga medis terlatih khusus untuk stroke. Pertama ditujukan baik dengan obat maupun perawatan bukan obat. Kemudian upaya rehabilitasi baik jasmani maupun kejiwaan (psikologis, rohani). Juga peran dukungan keluarga penting.

Gangguan aliran darah tungkai biasanya tungkai bawah juga dapat terjadi karena adanya aterosklerosis pembuluh darah nadi tungkai. Akibat penyempitan lumen terjadi kekurangan pasokan darah dan oksigen pada otot tungkai maka penderita akan merasakan nyeri sewaktu berjalan atau berlari. Bila berhenti beristirahat nyeri hilang tetapi bila berjalan lagi maka nyeri timbul lagi. Makin berat gangguan maka makin dekat jarak yang dapat ditempuh tanpa timbul nyeri. Gangguan nyeri sewaktu berjalan ini dikenal sebagai claudicatio intermittens. Pengelolaannya dapat dilakukan dengan cara pemberian obat (obat pelebar pembuluh darah, terhadap plak serta bekuan darah ataupun cara bedah.


Perkembangan Aterosklerosis
(A = Normal, B = Kerak Lemak, C = Plak Jaringan Ikat, D = Lesi Majemuk Yang Sudah Pecah Dan Terjadi Thrombus)


Sindrom Koroner Akut

Penulis : Prof. Marzuki Suryaatmadja

Sebelumnya