Graha Mas Blok C-18, Jl. Raya Pejuangan, Kebon Jeruk, Jakarta Barat 11530. Telp: (021) 5301390, 5481608. Fax: 5485523 (Lab), 5302107 (Mkt). info@abclab.co.id

Jenis Pemeriksaan

Layanan Telepon & Fax

TLP. C.S.(021) 530-1390
TLP. C.S.(021) 548-1608
FAX LAB.(021) 548-5523
FAX MKT.(021) 530-2107

Layanan Online


C.S. 1

C.S. 2

Afiliasi Kami

ABC Lab. (USA)
www.abclab.com
ABC Lab. (Philippines)
www.abclab.com.ph

Total Kunjungan Web

Faktor-faktor Risiko Penyakit Jantung dan Pembuluh Darah

Pendahuluan

Dalam beberapa decade belakangan ini angka kematian oleh karena penyakit kardiovaskular terus meningkat dan kini penyakit ini telah merupakan penyebab utama kematian untuk penduduk usia diatas 45 tahun di seluruh dunia. Hal ini dijumpai tidak hanya di negara industri atau negara maju tetapi juga di negara berkembang seperti di Indonesia. Di Indonesia berdasarkan sensus kesehatan rumah tangga (SKRT) yang dilakukan tiap 4 tahun, sejak tahun 1992 penyakit jantung koroner sudah menduduki peringkat nomor satu. Sampai dengan sensus terbaru peringkat ini masih tetap dipegang oleh penyakit kardiovaskular.

Oleh karena pada prinsipnya pencegahan jauh lebih baik daripada pengobatan maka perlu untuk mengenal tanda-tanda dini penyakit ini agar dapat dilakukan upaya pencegahan, yang terbaik pencegahan primer (sebelum terjadi kelainan) Telah diteliti banyak faktor risiko penyakit jantung koroner (PJK) atau penyakit arteri koroner yang dalam pengertian lebih luas disebut sebagai penyakit kardiovaskular (PKV) atau aterosklerosis. Telah diterima bahwa penyakit ini disebabkan oleh banyak faktor (multi factorial).

Pada makalah ini akan diuraikan faktor-faktor risiko PJK dan penggolongannya, dan uraian singkat tentang perannya terutama dari aspek laboratorium.

Faktor-faktor Risiko
Sebagaimana telah diterima oleh para ahli, PJK dianggap penyakit dengan banyak faktor risiko. Berdasarkan penelitian epidemiologis dan uji klinis maka faktor-faktor tersebut telah dinilai perannya terhadap terjadinya PJK, PKV atau aterosklerosis. Diharapkan dapat diperoleh faktor penduga, atau peramal yang terbaik untuk memprediksi adanya aterosklerosis dan PJK.

Faktor-faktor risiko yang sering dikemukakan amat beragam meliputi dari faktor genetik, perilaku atau gaya hidup, lipid darah, faktor pembekuan (koagulasi) dan fibrinolisis darah, protein, inflamasi, dan infeksi sampai imunologik. Sebagian dari faktor-faktor tersebut adalah lipid dan lipoprotein (kolesterol total, trigliserida, kolesterol-LDL, kolesterol-HDL, small dense-LDL = sdLDL, oxidized-LDL (ox-LDL), lipoprotein (a), protein (apolipoprotein A-I, apolipoprotein B, sphingomyelinase, phospholipase A2 familiy (Lp-PLA2; sPLA2), Homocystein, Myeloperoxidase (MPO, F2-lsoprostane), faktor-faktor inflamasi (high sensitivity C-reactive protein = hsCRP, serum amyloid antigen = SAA), faktor koagulasi dan fibrinolisis (fibrinogen, D-Dimer, Factor VII, faktor von Willebrand, plasminogen activator inhibitor-1 = PAI-1).

Penggolongan Faktor-faktor Risiko

Untuk memudahkan pengertian dan penafsiran maka telah dilakukan penggolongan faktor-faktor risiko yang banyak tersebut. Ada beberapa kriteria yang dipergunakan.

Yang penting adalah membedakan antara faktor-faktor risiko utama (mayor) dan tambahan (minor). Yang dimaksudkan dengan faktor risiko utama adalah faktor risiko yang secara tunggal sudah dapat menyebabkan terjadinya PJK atau aterosklerosis. Yang termasuk disini adalah kelainan pola lipid darah (dislipidemia), tekanan darah tinggi (hipertensi), dan merokok. Kemudian dimasukkan pula resistensi insulin, dan gangguan toleransi glukosa serta diabetes melitus sebagai ekivalen dengan PJK. Yang dimaksudkan dengan faktor risiko minor adalah faktor-faktor yang secara tunggal dianggap tidak dapat menyebabkan timbulnya PJK tetapi secara bersama dapat menimbulkan PJK. Yang termasuk di sini adalah lain kadar asam urat tinggi (hiperurikemia), kegemukan (obesitas), kurang aktif fisik / olahraga (physical inactivity = sedentary), stress.

Penggolongan lain adalah berdasarkan lamanya faktor-faktor tersebut telah dikenal, yaitu antara yang klasik dan yang baru serta yang amat baru (novel). Yang klasik adalah kolesterol total, trigliserida, kolesterol-LDL, kolesterol-HDL, glukosa, asam urat, fibrinogen, agregasi trombosit. Yang dianggap baru adalah high sensitivity C-Reactive Protein (hs-CRP), serum amyloid antigen = SAA, Interleukin-6 = IL-6), Chlamydia pneumoniae, Cytomegalovirus, Helicobacter pylori, bakteri infeksi geligi, lipoprotein(a), homosistein (hemocysteine). Yang amat baru adalah sd-LDL, Myeloperoxidase (MPO), oxidized-LDL, F2-Isoprostane, Sphingomyelinase, dan Phospholipase A2 (Lp-PLA2; sPLA2).

Penggolongan yang penting ditinjau dari segi praktis adalah antara faktor-faktor yang tidak dapat diubah (non modifiable) dan yang dapat diubah (modifiable). Faktor-faktor yang tidak dapat diubah adalah gentik, ras / etnik, jenis kelamin, usia dan riwayat keluarga menderita PJK. Faktor-faktor yang dapat diubah adalah dislipidemia / kelainan pada lipid darah (kolesterol-LDL tinggi, kolesterol-HDL rendah, trigliserida tinggi), tekanan darah tinggi / hipertensi, merokok, resistensi insulin, gangguan toleransi glukosa, diabetes mellitus, kadar asam urat tinggi / hiperurikemia, obesitas, kurang aktif fisik / olahraga, stress, dan lain-lain baik yang berhubungan dengan gaya hidup dan makanan.

Dari penggolongan di atas jelas terlihat bahwa kebanyakan faktor-faktor tersebut dapat diubah (dimodifikasi), dapat diusahakan menjadi normal dengan perubahan kebiasaan / gaya hidup yaitu dengan menjalankan apa yang dikenal dengan gaya hidup sehat (healthy lifestyle). Terbukti juga bahwa dengan perbaikan fakto-faktor risiko tersebut maka terjadi juga perubahan yang bersifat baik (positif) dari dinding pembuluh darah. Hal ini penting dari aspek pencegahan. Selain pencegahan primer (sebelum terjadinya PJK), gaya hidup sehat juga berguna untuk pencegahan sekunder (memperbaiki proses PJK yang sudah ada).

Faktor-faktor Risiko dan Pengelolaannya

Yang paling banyak diterapkan dan diminta dalam praktek laboratorium klinik adalah pemeriksaan pola lipid terhadap adanya kelainan (dislipidemia).

Diabetes melitus sekarang tidak lagi dianggap sebagai faktor risiko minor tetapi sudah dibuktikan ekivalen dengan PJK. Penderita diabetes melitus tanpa kelainan darah koroner ternyata mempunyai risiko untuk mendapat serangan PJK sama dengan penderita yang sudah mempunyai kelainan pembuluh darah koroner. Pengelolaan diabetes melitus adalah dengan cara yang disebut 4 pilar penanganan terdiri dari pengaturan makan, olahraga, obat-obatan, dan penyuluhan.

Merokok merupakan salah satu faktor risiko utama untuk timbulnya PJK. Rokok mengandung nikotin, tar dan juga karbon mono-oksida. Merokok bersifat pro-oksidan, menyebabkan kadar fibrinogen meningkat (hiperfibrinogen), agregasi trombosit meningkat (hiperagregasi), demikian pula F2-isoprostane meningkat. Cara mengatasinya adalah dengan berhenti merokok bagi perokok aktif dan menghindari asap rokok bagi perokok pasif.

Asam urat tinggi dianggap sebagai faktor risiko minor. Dalam pengelolaan ditujukan agar kadar asam urat darah berada dalam rentang rujukan, kurang dari 6 mg/dl untuk perempuan dan < 7 mg/dl untuk laki-laki. Oleh karena sekarang diketahui bahwa asam urat juga mempunyai sifat antioksidan maka dianjurkan agar kadarnya tidak perlu diturunkan sampai amat rendah. Kadar tinggi diatasi dengan mencari faktor penyebab yang tidak selalu mudah. Umumnya dilakukan dengan pengaturan makan rendah asam urat, obat-obatan yang mencegah pembentukan asam urat dan meningkatkan pengeluaran melalui urin.

Kurang aktifitas fisik, kurang olahraga, atau gaya hidup sedenter (sedentary lifestyle) banyak dijumpai sekarang. Hal ini disebabkan adanya kemajuan teknologi yang mengurangi kerja fisik. Juga kerja dengan komputer dan hiburan televisi mengurangi kerja fisik. Keadaan ini dikaitkan dengan timbulnya dislipidemia, obesitas, dan lain-lain.

Olahraga yang dianjurkan adalah yang bersifat aerobik seperti antara lain jalan kaki, jogging, renang, tenis bukan kompetisi.

Homosistein sebagai bentuk ubahan dari metabolisme asam amino metionin juga dianggap sebagai faktor risiko yang mempengaruhi banyak mekanisme patofisiologi, antara lain perubahan dinding pembuluh darah (disfungsi endotel), bersifat menimbulkan kecenderungan tormbosis (protrombotik), juga pro-oksidan, pembentukan sel busa, dan perbanyakan (proliferasi). Kadar homosistein tinggi diatasi dengan penambahan vitamin B12, B6 dan asam folat.

Obesitas juga merupakan faktor risiko PJK. Ada beberapa cara kriteria penilaian obesitas yaitu antara lain dengan indeks masa tubuh (IMT = body mass index = BMI), tinggi dan berat badan, rasio pinggang – pinggul (waist – hip ratio). Obesitas dikaitkan dengan sindroma metabolik, suatu keadaan dimana pada seseorang dijumpai beberapa faktor risiko secara bersama, yaitu diabetes melitus atau gangguan toleransi glukosa atau resiten insulin, hipertensi, hiperurikemia, dan dislipidemia. Upaya mengurangi obesitas dapat dilakukan dengan cara pengaturan makan, olahraga, gaya hidup sehat, dan bila perlu dibantu dengan obat-obatan. Walaupun belum mencapai standar normal ternyata pengurangan derajad obesitas saja sudah memberikan banyak perbaikan faktor-faktor risiko lain.

Sejak dekade yang lalu juga diperhatikan faktor-faktor peradangan (inflamasi) dan infeksi, seperti high sensitivity C-reactive protein = hsCRP, serum amyloid antigen = SAA, Helicobacter pylori, Chlamydia pneumonia, Cytomegalovirus dan juga infeksi geligi dan mulut (periodontitis). Dianggap bahwa faktor-faktor infeksi kronis tersebut menyebabkan stimulasi pengeluaran sitokin peradangan antara lain high sensitivity C-reactive protein = hsCRP, serum amyloid antigen = SAA, IL-6, dll yang berperan pada terbentuknya plak.

Dari parameter-parameter tersebut yang amat menarik perhatian adalah hs-CRP. Petanda ini dianggap merupakan petanda yang mempunyai nilai predikisi PJK yang terkuat dibandingkan petanda-petanda lain, dapat dipakai untuk menilai risiko PJK sesorang tanpa penyakit kardiovaskular.

Kadar hsCRP < 1mg/L dianggap risiko rendah, kadar 1-3 mg/L risiko sedang, dan kadar 3-5 mg/L risiko berat. Bila kadar > 10 mg/L dianggap disebabkan oleh peradangan (inflamasi) akut dan perlu diulang setelah beberapa waktu (biasanya 3 minggu).

Faktor risiko Utama (Major) :

  • Dislipidemia
  • Hipertensi
  • Merokok
  • Resistensi Insulin
  • Gangguan toleransi glukosa
Faktor risiko Minor :

  • Hiperurikemia
  • Obesitas
  • Tidak aktif olahraga
  • Stress
  • Dll
Faktor risiko yang dapat diubah :

  • Dislipidemia
  • Hipertensi
  • Merokok
  • Resistensi Insulin
  • Gangguan toleransi glukosa
  • Hiperurikemia
  • Obesitas
  • Tidak aktif olahraga
  • Stress
  • Dll
Faktor risiko yang tidak dapat diubah :

  • Genetik
  • Ras / Etnik
  • Jenis kelamin
  • Usia

Penulis : Prof. Marzuki Suryaatmadja

Lainnya