Graha Mas Blok C-18, Jl. Raya Pejuangan, Kebon Jeruk, Jakarta Barat 11530. Telp: (021) 5301390, 5481608. Fax: 5485523 (Lab), 5302107 (Mkt). info@abclab.co.id

Jenis Pemeriksaan

Layanan Telepon & Fax

TLP. C.S.(021) 530-1390
TLP. C.S.(021) 548-1608
FAX LAB.(021) 548-5523
FAX MKT.(021) 530-2107

Layanan Online


C.S. 1

C.S. 2

Afiliasi Kami

ABC Lab. (USA)
www.abclab.com
ABC Lab. (Philippines)
www.abclab.com.ph

Total Kunjungan Web

DEMAM BERDARAH DENGUE

Pendahuluan
Demam Dengue adalah penyakit yang disebabkan oleh virus famili Flaviviridae dan disebarkan oleh nyamuk Aedes. Secara klinis Demam Dengue (DD) dan demam berdarah Dengue (DBD). Di Indonesia kasus DBD pertama kali dicurigai di Surabaya pada Tahun 1968. Di Jakarta, kasus pertama dilaporkan pada tahun 1969. Pada tahun 1994 DBD telah menyebar ke seluruh propinsi di daerah pedesaan.

Nyamuk Aedes aegepty Pada awal terjadinya wabah di suatu negara, distribusi umur diperkirakan 50 sampai 100 juta kasus DBD per tahunnya dan 90% nya menyerang anak-anak berusia di bawah 15 tahun. Namun pada wabah-wabah selanjutnya, jumlah penderita yang digolongkan dalam golongan usia dewasa dan muda juga meningkat. Saat ini DBD dapat menyerang semua golongan usia. Rata-rata angka kematian pada kasus DBD mencapai 5%.

Etiologi
Virus dengue adalah anggota virus genus Flavivirus dan famili Flaviviridae. Virus ini berukuran kecil dan memiliki single stranded RNA. Ada empat serotipe virus Dengue yang disebut serotipe 1, 2, 3 dan 4 (DEN1, DEN2, DEN3, DEN4). Dari survei virologi penderita DBD yang telah dilakukan di beberapa rumah sakit di Indonesia sejak tahun 1972 sampai dengan tahun 1995, keempat serotipe berhasil diisolasi baik dari penderita DBD derajat ringan maupun berat. Selama 17 tahun, serotipe yang mendominasi ialah serotipe 2 dan 3. Serotipe 3 dikaitkan dengan kasus DBD berat.

Patogenesis
Sejak Tahun 50-an berkembang teori imunopatologi, yang banyak berpengaruh sampai saat ini. Kemudian dari pengamatan epidemiologi, klinis, dan laboratoris muncul teori-teori infeksi sekunder oleh virus lain yang berurutan, teori antigen-antibodi dan aktivasi komplemen. Dari sini berkembang menjadi teori infection enhancing antibody, dengan peran endotoksemia dan peran sel limfosit T. Teori trombosit endotel merupakan teori baru di samping yang telah ada. Sesudah itu muncul teori mediator dan teori apoptosis. Sejauh ini belum ada suatu teori yang dapat menjelaskan secara tuntas patogenesis demam berdarah Dengue.

Gejala Klinis
Infeksi Virus Dengue dapat terjadi tanpa gejala (Asimptomatis) dan dengan gejala (Simptomatis). Pada infeksi virus Dengue yang simptomatis dapat bermanifestasi klinis ringan yaitu demam tanpa penyebab yang jelas ( undifferentiated febrile illness), demam Dengue (DD) dan demam berdarah Dengue (DBD) termasuk sindrom syok Dengue (SSD). Infeksi dari satu serotipe Dengue dapat memberikan kekebalan seumur hidup terhadap serotipe yang bersangkutan, namun tetap tidak terbukti adanya proteksi silang terhadap serotipe lainnya. Hal ini dapat menjelaskan adanya peningkatan wabah dengan siklus 5 tahunan.

Demam Dengue
Demam dengue adalah penyakit demam akut selama 2-7 hari dengan dua atau lebih manifestasi sebagai berikut: nyeri kepala, nyeri di belakang mata (retro-orbital), nyeri otot (Mialgia), ruamkulit, manifestasi perdarahan dan hitung leukosit rendah (leukopenia).

Demam Berdarah Dengue(DBD)
Pada awal perjalanan penyakit, DBD dapat menyerupai kasus DD dengan kecenderungan perdarahan yang berupa satu atau lebih manifestasi di bawah ini, yaitu :

  • Uji bendungan (Tourniquet) positif
  • Perdarahan kulit (Petekie, ekimosis atau purpura)
  • Perdarahan mukosa (perdarahan hidung (epistaksis), perdarahan gusi)
  • Muntah darah (hematemesis) atau buang air besar darah (melena).
  • Hitung trombosit rendah (trombositopenia = hitung trombosit < 100.000/mm3)
  • Pemekatan darah (hemokonsentrasi) sebagai akibat dari peningkatan permeabilitas kapilar dengan manifestasi satu atau lebih yaitu:
    • Peningkatan hematokrit (Ht) sesuai umur dan jenis kelamin > 20% dibandingkan rujukan atau lebih baik lagi data awal pasien.
    • Penurunan hematokrit 20% setelah medapat pengobatan cairan.
    • Tanda perembesan plasma, yaitu efusi pleura, asites atau proteinuria.

Sindrom Syok Dengue
Terdapat kriteria DBD seperti diatas, ditambah dengan manifestasi kegagalan sirkulasi yaitu nadi lemah dan cepat, tekanan nadi menurun ( < 20 mmHg ), hipotensi (serta sesuai umur), kulit dingin dan lembab serta pasien tampak gelisah.

Diagnosis Laboratorium
Pemeriksaan laboratorium meliputi pemeriksaan hematologi, hemotasis dan imunoserologi. Pemeriksaan hematologi yang penting adalah hitung trombosit (trombositopenia = 100.000/ μL) dan hematokrit (meningkat sampai 20 %); disamping itu juga hitung leukosit (leukopenia). Pada sediaan darah tepi sering dapat dijumpai peningkatan limfosit plasma biru, yang walaupun tidak spesifik untuk virus Dengue tetapi bila jumlahnya meningkat mendukung diagnosis.

Trombosit Penyebab trombositopenia pada DBD masih kontroversial. Sebagian peneliti mengatakan kemungkinan penyebabnya ialah trombopoiesis yang menurun dan destruksi trombosit dalam darah yang meningkat. Peneliti lain menemukan adanya gangguan fungsi trombosit mekanisme yang menyebabkan peningkatan destruksi dan gangguan fungsi trombosit belum diketahui dengan jelas. Ditemukannya kompleks imun pada permukaan trombosit diduga sebagai penyebab agregasi trombosit yang kemudian akan dimusnahkan oleh sistem retikuloendotelial khususnya dalam limpa dan hati.

Pemeriksaan hemostasis yang penting pada awal sakit adalah uji bendungan (uji Tourniquet). Pada stadium lebih lanjut penetapan D Dimer, dan masa protrombin (Prothrombin time = PT) membantu memastikan sudah adanya koagulasi intra vascular menyebar (Disseminated intra Vascular Coagulation = DIC). Ada peneliti yang mengatakan bahwa pada penderita DBD ditemukan peningkatan yang minimal kadar FDP, dan tidak berhubungan dengan beratnya penyakit. Pada penderita dengan peningkatan FDP, ditemukan masa tromboplastin parsial dan masa protrombin yang agak memanjang. FDP yang meningkat disertai trombositopenia menunjukan adanya proses koagulasi intravaskular, merupakan hal yang mengakibatkan perdarahan tetapi belum membuktikan adanya DIC. Namun demikian DBD dengan syok dan asisdosis berkepanjangan dapat mencetuskan DIC.

Sedangkan peneliti lain mengatakan bahwa pada semua kasus DBD ditemukan manifestasi DIC tipe akut. Jadi jelaslah bahwa perjalanan penykait DBD yang alami akan menyebabkan proses patofisiologi kompleks dari berbagai sistem dalam tubuh penderita. Hal ini masih dapat menjadi bahan yang cukup luas untuk melakukan penelitian mengenai patofisiologi DBD.

Uji laboratorium yang sangat penting dilakukan untuk memastikan diagnosis etiologi infeksi virus dengue meliputi pemeriksaan-pemeriksaan dibawah ini:

  1. Isolasi virus Dengue
  2. Uji serologi :
  • adanya kenaikan titer serum antibodi Dengue spesifik,
  • adanya antigen virus spesifik atau RNA dalam jaringan atau serum.

Isolasi virus merupakan pendekatan yang paling menentukan, namun teknik yang ada saat ini membutuhkan tingkat keahlian teknis dan perlengkapan yang relatif tinggi. Uji serologi cukup mudah dan lebih cepat di lakukan, namun reaksi silang antara antibodi Dengue dan Flavivirus lainnya dapat menimbulkan hasil positif palsu. Selain itu, identifikasi akurat terhadapa serotipe infeksi virus dengue belum dimungkinkan dengan metode serologi pada umumnya.

Teknologi baru yang ada untuk melakukan uji laboratorium terhadap infeksi Dengue meliputi imunohistokimia pada jaringan otopsi dan Polymerase Chain reaction (PCR) untuk mendeteksi RNA virus dalam jaringan atau serum. Dari suatu penelitian yang membandingkan antara pemeriksaan serologi (Dengue Blot) dengan PCR didapatkan hasil sama baiknya.

Isolasi virus Dengue

Isolasi virus Dengue dari spesimen klinis dapat diperoleh dari sebagian besar kasus. Spesimen harus diambil sebelum 4 hari setelah timbul gejala dan diproses secepat mungkin. Spesimen yang mungkin sesuai untuk isolasi virus meliputi serum fase akut, plasma atau lapisan leukosit setelah pemusingan tabung darah (buffycoat) pasien yang telah dicuci (washed buffy coat), jaringan otopsi yang diambil dari pasien yang meninggal, terutama hati limp, kelenjar getah bening, kelenjar timus dan nyamuk yang dikumpulkan di alam.

Untuk penyimpanan singkat (hingga 48 jam), spesimen yang akan digunakan untuk isolasi virus dapat disimpan pada suhu 48 °C. Untuk penyimpanan yang lebih lama, serum harus dipisahkan dan dibekukan pada suhu 70 °C dan dipertahankan sedemikian rupa sehingga tidak terjadi pencairan. jika dilakukan isolasi dari sel leukosit, spesimen darah heparin harus dikirim ke laboratorium dalam waktu beberapa jam.

Terdapat lima uji serologi dasar yang umum digunakan untuk mendiagnosis infeksi Dengue secara rutin yaitu :

  1. Uji hambatan hemaglutinasi (Hemaglutinasi inhibition = HI)
  2. Uji Fiksasi komplemen (Complemen fixation = CF)
  3. Uji Netralisasi (Neutralization test = NT)
  4. IgM Capture enzymelinked immunosorbent assay (MAC ELISA)
  5. Indirect lg G ELISA

Lainnya