Graha Mas Blok C-18, Jl. Raya Pejuangan, Kebon Jeruk, Jakarta Barat 11530. Telp: (021) 5301390, 5481608. Fax: 5485523 (Lab), 5302107 (Mkt). info@abclab.co.id

Jenis Pemeriksaan

Layanan Telepon & Fax

TLP. C.S.(021) 530-1390
TLP. C.S.(021) 548-1608
FAX LAB.(021) 548-5523
FAX MKT.(021) 530-2107

Layanan Online


C.S. 1

C.S. 2

Afiliasi Kami

ABC Lab. (USA)
www.abclab.com
ABC Lab. (Philippines)
www.abclab.com.ph

Total Kunjungan Web

OBESITAS

Pendahuluan

Kelebihan berat badan (berat badan lebih = BBL) sampai kegemukan (obesitas = Ob) telah menjadi isu hangat dalam 1-2 dekade terakhir ini. Hal ini didasarkan pengamatan adanya peningkatan nyata di banyak negara, tidak saja di Amerika Serikat tetapi juga di negara berkembang. Obesitas telah dianggap epidemi. Hal ini seiring dengan peningkatan Sindrom Metabolik (SM) dimana obesitas menjadi salah satu unsurnya. Istilah “diabesitas” sebagai gabungan diabetes dan obesitas. 1,2

Obesitas dan SM menjadi perhatian karena erat hubungannya dengan berbagai penyakit sampai kematian dengan beban biaya besar. Di Amerika Serikat berdasarkan studi NHANES pada tahun 1980 prevalensi orang dewasa usia lebih dari 20 tahun ada 33% dengan BBL dan 15% dengan Obesitas menjadi pada tahun 2003 34% BBL dan 32% Obesitas. Pada tahun 2005 CDC memperkirakan 112,000 kematian terkait obesitas per tahun Biaya langsung dan tidak langsung untuk obesitas pada tahun 2000, diperkirakan $117 milyard. 3 Selain itu telah terbukti bahwa dengan menurunkan berat badan (BB) walaupun hanya derajat sedang sudah memberikan pengaruh baik.

Pada tulisan ini akan dibahas beberapa cara pengukuran dan kelasifikasi BBL dan obesitas, bahaya dan penyulit, faktor risiko, patofisiologi, penatalaksanaannya.

Cara penilaian status gizi

Ada beberapa cara pengukuran status gizi seseorang yaitu pertama berdasarkan rumus Broca, kedua dengan Indeks Masa Tubuh (IMT) (Body Mass Index = BMI), ketiga denganRasio Pinggang-Pinggul (RPP) (Waist-Hip Ratio = WHR), dan keempat dengan lingkar pinggang (LP) (Waist Circumference = WR); cara ketiga dan keempat khusus untuk BBL dan obesitas.

Pada rumus Broca, dipergunakan tinggi badan (TB) dalam cm dan berat badan (BB) dalam kg. Berat badan idaman (BBI) = (TB – 100) – 10%. Pada cara IMT dipergunakan TB dalam m dan BB dalam kg, dimana IMT = BB/TB2 kg/m2. Pada cara RPP lingkar pinggang (perut) dan lingkar pinggul dalam cm. Cara LP hanya mengukur lingkar pinggang (perut) dalam cm.

Definisi dan kelasifikasi BBL dan Obesitas

Obesitas adalah keadaan kesehatan dan status gizi dengan akumulasi lemak tubuh berlebihan disertai risiko kelainan patologis yang multi organ. 3 Berdasarkan kelasifikasi WHO pada tahun 1998, dinyatakan BBL bila IMT 25,0-29,9 kg/m2 dan obesitas bila IMT 30,0 kg/m2, yang dirinci menjadi obesitas ringan IMT 30,0-34,9, sedang IMT 35,0-39,9, dan berat (morbid) IMT 40,0 kg/m2. IMT tergantung usia dan tidak membedakan jenis kelamin. Sebagai contoh seorang dewasa dengan BB 70 kg dan TB 1,75 m mempunyai IMT = 22,9. Kelemahan cara ini adalah tidak membedakan BB tinggi yang disebabkan oleh lemak atau otot. Seorang dengan BB tinggi selalu dianggap obes walaupun dapat disebabkan oleh banyak otot. Selain itu IMT yang sama dapat dijumpai pada orang-orang dengan lemak perut (intra abdominal) berbeda disertai resistensi insulin seperti pada orang Asia Selatan. Diperdebatkan mengenai perlunya nilai potong tersendiri untuk tiap etnik disebabkan adanya perbedaan antara IMT, % dan sebaran lemak tubuh pada populasi yang berkaitan dengan risiko kesehatan.


Tabel 1: Kelasifikasi internasional Berat badan rendah, Normal, Berat badan lebih dan Obesitas berdasarkan Indeks Massa Tubuh.
BMI(kg/m2)
Nilai potong utama Nilai potong tambahan
Berat badan rendah <18.50 <18.50
Kurus berat <16.00 <16.00
Kurus sedang 16.00 – 16.99 16.00 – 16.99
Kurus ringan 17.00 – 18.49 17.00 – 18.49
Rentang normal 18.50 – 24.99 18.50 – 22.99
23.00 – 24.99
Berat badan lebih 25.00 25.00
Pra Obes 25.00 – 29.99 25.00 – 27.49
27.50 – 29.99
Obese 30.00 30.00
Obese kelas I 30.00 – 34-99 30.00 – 32.49
32.50 – 34.99
Obese kelas II 35.00 – 39.99 35.00 – 37.49
37.50 – 39.99
Obese kelas III 40.00 40.00

(Sumber: Dari WHO, 1995, WHO, 2000 dan WHO 2004)

Menyadari hal tersebut maka WHO mengusulkan untuk menurunkan batasan nilai potong untuk orang Asia. Berdasarkan kelasifikasi Asia Pasifik pada tahun 2000, dengan penyesuaian IMT untuk orang Asia, maka dinyatakan BBL bila IMT 23,0 yang dibedakan lagi menjadi BBL dengan risiko IMT 23,0 – 24,9, Obes I bila IMT 25,0 – 29,9 dan Obes II 30,0 kg/m2.


Tabel 2. Kelasifikasi Berat badan untuk orang Asia berdasarkan Indeks Masa Tubuh.4
KelasIMT (kg/m2)
Berat badan rendah < 18,5
Normal 18,5 – 22,9
Berat badan lebih 23,0
Berat badan lebih dengan risiko 23,0 – 24,9
Obes I 25,0 – 29,9
Obes II 30,0


The WHO Expert Consultation pada tahun 2002 memperbaiki dengan nilai potong untuk risiko yang diamati bervariasi dari 22 – 25 kg/m2 pada populasi Asia yang berbeda dan risiko tinggi dari 26 – 31 kg/m2. Selanjutnya dianjurkan agar tabel 1 dipertahankan sebagai kelasifikasi internasional dengan nilai potong 23,0, 27,5, 32,5 dan 37,5 kg/m2 ditambahkan sebagai titik-titik untuk menentukan sikap kesehatan komunitas. 4,5

Selain dengan IMT berbagai rekomendasi juga menggunakan ukuran RPP dan LP, misalnya WHO, 1998: Obesitas IMT > 30 atau RPP > 0,9 (lelaki) atau > 0,85 (perempuan); the European Group for the Study of Insulin Resistance, 1999 menggunakan LP  94 cm (lelaki) atau  80 cm (perempuan), dan NCEP: ATP III, 2001: Obesitas sentral: LP  102 cm (lelaki),  88 cm (perempuan), serta Konsensus IDF menyesuaikan untuk orang Asia ukuran LP > 90 cm dan perempuan > 80 cm; kecuali untuk orang Jepang lelaki > 85 cm dan perempuan > 90 cm. 6,7

Belum ada kesepakatan cara mana yang baik dianut. Misalnya INTERHEART Study yang memfokuskan kepada risiko Infark miokard, juga Dallas Heart Study, mengemukakan bahwa RPP lebih baik. Sedangkan WHO lebih memilih LP seperti EGSIR, NCEP:ATP III dan IDF. 6,7

Adipositas
Gambar 1. Adipositas sentral.Patofisiologi Obesitas

Epidemi obesitas dijelaskan dengan peningkatan konsumsi energi dan / atau penurunan pengeluaran energi, perubahan faktor-faktor lingkungan, mutasi genetik baru, serta juga peningkatan kelainan hormonal terkait obesitas. Epidemi obesitas ini melintasi batas budaya. Seluruh dunia menjadi lebih “berat” dengan perbaikan ekonomi, peningkatan akses dan atau keinginan terhadap makanan kalori tinggi, lemak tinggi, dan gula tinggi, dan kemajuan teknologi ikut mengurangi keaktifan fisik. Beberapa kelainan hormonal disertai obesitas yang dapat diobati seperti hipotiroidisme, sindrom Cushing, dan sindrom polikistik ovarium (PCOS) tidak banyak. Perkembangan evolusi genetik selama beberapa ribu tahun telah menghasilkan energi simpan pada manusia pada saat banyak untuk digunakan pada saat kurang. Oleh karena itu sebab tidak dapat mengubah gen maka harus mengubah perilaku. 3

Jenis obesitas

Obesitas dapat dibedakan menjadi obesitas sentral, penumpukan lemak viseral di perut, tipe android yang dikenal sebagai bentuk buah apel dan lemak subkutan di pinggul, ginekoid yang dikenal sebagai bentuk buah pear. Bentuk yang pertama yang dianggap berisiko tinggi. Lihat gambar 2.

Obesitas Android
Gambar 2. Obesitas android (bentuk apel) dan ginekoid (bentuk pear).

Faktor-faktor risiko menjadi obesitas

Faktor-faktor yang meningkatkan risiko menjadi obes meliputi:

  1. Genetik.
    Kemungkinan BBL lebih besar bila salah satu atau kedua orang tua obes.
  2. Usia.
    Menjadi tua cenderung menjadi kurang aktif. Juga terdapat penyusutan jumlah otot yang merendahkan metabolisme. Semua ini mengurangi keperluan kalori
  3. Diet.
    Konsumsi makanan kalori tinggi seperti makanan cepat saji (fast food) secara teratur ditambah dengan soft drinks, candy dan desserts menyumbang peningkatan BB.
  4. Ketidakaktifan fisik.
    Gaya hidup sedenter kurang membakar kalori.
  5. Faktor-faktor psikologis.
    Sebagian orang makan berlebih disebabkan masalah emosi seperti stres dan kebosanan.
  6. Merokok.
    Setelah berhenti merokok cenderung BB bertambah. Hal ini karena hilangnya pengaruh nikotin yang meningkatkan laju pembakaran kalori, juga menjadikan pengecapan dan wangi makanan lebih baik.
  7. Kehamilan.
    Selama kehamilan BB perempuan bertambah. Pasca melahirkan sebagian mereka mengalami kesukaran menurunkan BB kembali.
  8. Obat-obatan.
    Kortikosteroid dan antidepresan trisiklik, khususnya, dapat menyebabkan penambahan BB. Selain itu obat hipertensi dan antipsikosis juga dapat.
  9. Masalah medis.
    Ada juga obesitas yang disebabkan gangguan hormonal seperti hipotiroid, sindrom Cushing, dan sindrom polikistik ovarium (PCOS). Artritis yang mengurangi keaktifan fisik juga dapat menyebabkan penambahan BB.
  10. Alkohol.
    Alkohol menambah kalori dan juga selera makan.8

Gambar 3 menunjukkan obesitas dipengaruhi oleh faktor gen dan lingkungan.

Faktor Obesitas
Gambar 3. Faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan Obesitas.11

Jaringan adiposa sebagai organ endokrin

Jaringan adiposa ternyata tidak hanya sebagai cadangan lemak untuk energi tetapi sebagai organ endokrin yang mengeluarkan banyak hormon dan sitokin. Oleh karena itu pada obesitas dengan banyak jaringan adiposa maka dapat mempengaruhi organ lain, misalnya kardiovaskular (PAI-1, Renin-angiotensin), metabolik (asam lemak bebas, adiponektin, resistin, agouti, ligan PPAR ), endokrin (leptin, kortikosteroid, steroid seks), dan imunologik (TNF, IL-6, komplemen). Lihat gambar 4.

Jaringan Adiposa
Gambar 4. Jaringan adiposa sebagai organ endokrin.12

Penyulit

Seorang obes menghadapi risiko masalah kesehatan yang berat, antara lain:

  1. Hipertensi.
    Penambahan jaringan lemak meningkatkan aliran darah. Peningkatan kadar insulin berkaitan dengan retensi garam dan air yang meningkatkan volum darah. Laju jantung meningkat dan kapasitas pembuluh darah mengangkut darah berkurang. Semuanya dapat meningkatkan tekanan darah.
  2. Diabetes.
    Obesitas merupakan penyebab utama DM t2. Lemak berlebih menyebabkan resistensi insulin, dan hiperglikemia berpengaruh negatif terhadap kesehatan.
  3. Dislipidemia.
    Terdapat peningkatan kadar low-density lipoprotein cholesterol (“jahat”), penurunan kadar high-density lipoprotein cholesterol (“baik”) dan peningkatan kadar trigliserida. Dispilidemia berisiko terbentunya aterosklerosis.
  4. Penyakit jantung koroner dan Stroke.
    Penyakit-penyakit ini merupakan penyakit kardiovaskular akibat aterosklerosis.
  5. Osteoartritis.
    Obesitas memperberat beban pada sendi-sendi.
  6. Apnea tidur.
    Obesitas menyebabkan saluran napas yang menyempit yang selanjutnya menyebabkan henti napas sesaat sewaktu tidur dan mendengkur berat.
  7. Asthma.
    Anak dengan BBL atau obes cenderung lebih banyak mengalami serangan asma atau pembatasan keaktifan fisik.
  8. Kanker.
    Banyak jenis kanker yang berkaitan dengan BBL misalnya pada perempuan kanker payudara, uterus, serviks, ovarium dan kandung empedu; pada lelaki kanker kolon, rektum dan prostat.
  9. Penyakit perlemakan hati.
    Baik peminum alkohol maupun bukan dapat mengidap penyakit perlemakan hati (non alcoholic fatty liver disease = NAFLD) atau non alcoholic steatohepatitis (NASH) yang dapat berkembang menjadi sirosis.
  10. Penyakit kandung empadu.
    Orang dengan BBL dapat menghasilkan banyak kolesterol yang berisiko batu kandung empedu.
  11. Gout.
    Obesitas juga mungkin berkaitan dengan gout.8,9 Bahkan pada perempuan sehat yang belum obes the Pensacola Study telah menujukkan bahwa peningkatan LP sudah meningkatkan parameter risiko metabolik. 10

Penatalaksanaan Obesitas

Penatalaksanaan Obesitas dianjurkan agar melalui banyak cara secara bersama-sama. Terdapat banyak pilihan antara lain:

  1. Gaya hidup
    perubahan perilaku dan pengaturan makan. Prinsipnya mengurangi asupan kalori dan meningkatkan keaktifan fisik, dikombinasikan dengan perubahan perilaku. Kata pepatah Cina kuno “makan malam sedikit akan membuat Anda hidup sampai sembilan puluh sembilan tahun”. Pertama usahakan mencapai dan mempertahankan BB yang sehat. Konsumsi kalori kurang adalah faktor penting untuk keberhasilan penurunan BB. Pengaturan makan disesuaikan dengan banyak faktor antara lain usia, keaktifan fisik. Makan jumlah sedang makanan kaya nutrien, lemak rendah dan kalori rendah. Pilih jenis makanan dengan kepadatan energi rendah seperti sayur-sayuran dan buah-buahan, jenis makanan sehat, jenis karbohidrat yang berserat tinggi, hindari manis-manisan, kurangi lemak. Awasi ukuran porsi, dan hitung kalori misalnya makanan yang diproses mengandung lebih banyak kalori daripada yang segar. Perbanyak kerja fisik, olahraga teratur, dan kurangi waktu nonton TV.
  2. Bedah bariatrik
    Di Amerika Serikat cara ini dianjurkan bagi mereka dengan IMT 40 kg/m2 atau IMT 35,0-39,9 kg/m2 disertai penyakit kardiopulmonar, DM t2, atau gangguan gaya hidup dan telah gagal mencapai penurunan BB yang cukup dengan cara non-bedah. (NIH Consensus Development Panel pada tahun 1991). Kemudian pada tahun 2004 ASBS Consensus menganjurkan juga cara ini untuk mereka dengan IMT 30,0-34,9 kg/m2 dengan keadaan komorbid yang dapat disembuhkan atau diperbaiki secara nyata. Dapat diharapkan penurunan BB maksimal 21-38%..
  3. Obat-obat anti obesitas
    Ada obat yang mempunyai kerja anoreksian (meningkatkan satiation, menurunkan selera makan, atau satiety, meningkatkan rasa kenyang, atau keduanya), contohnya Phentermin. Obat ini hanya dibolehkan untuk jangka pendek. Orlistat menghambat enzim lipase usus sehingga menurunkan pencernaan lemak makanan dan meningkatkan ekskresi lemak dalam tinja dengan sedikit kalori yang diserap. Sibutramine meningkatkan statiation dengan cara menghambat ambilan kembali monoamine neurotransmitters (serotonin, noradrenalin dan sedikit dopamin), menyebabkan peningkatan senyawa-senyawa tersebut di hipotalamus. Rimonabant termasuk kelompok antagonuis CB1, yang menghambat ikatan cannabinoid endogen pada reseptor CB1 neuronal, sehingga menurunkan selera makan dan menurunkan BB. Orlistat, sibutramin dan rimonabant dapat dipergunakan untuk jangka lama dengan memperhatikan efek sampingnya; rimonabant masih ditunda di Amerika Serikat. Sayangnya obat-obatan tersebut tiada yang dapat memenuhi harapan dan kebutuhan orang. Oleh karena itu industri farmasi masih mengembangkan banyak calon obat baru.

Perlu dipahami bahwa untuk semua cara tersebut tetap diperlukan pengaturan makan, latihan fisik, perubahan perilaku dan pedoman medis seumur hidup. 3,8

Lainnya