Navigasi Menu
Hotline
|
Customer Service : Telepon. (021) 530-1390 Telepon. (021) 548-1608 |
Link Afiliasi
-

ABC Lab. (USA)
http://www.abclab.com -

ABC Lab. (Philippines)
http://www.abclab.com.ph
ADIPONEKTIN
Pada saat ini obesitas sudah menjadi epidemik baik pada anak-anak maupun dewasa. Obesitas didefinisikan sebagai kelebihan lemak tubuh. Obesitas biasanya dinilai dengan cara menghitung Body Mass Index (BMI) dengan menggunakan rumus Berat Badan (Kg) dibagi Tinggi Badan dalam kwadrat (M2). Dikatakan obesitas bila BMI > 30 kg/m2.
Pada saat ini obesitas sudah menjadi epidemik baik pada Obesitas berkaitan erat dengan faktor risiko sindrom metabolik yaitu kumpulan faktor-faktor risiko metabolik yang saling berhubungan dan secara langsung memicu berkembangnya penyakit kardiovaskular (PKV). Pasien dengan sindrom metabolik memiliki peningkatan risiko mengalami diabetes tipe 2 (T2DM), dislipidemia aterogenik, peningkatan tekanan darah (hipertensi) dan peningkatan konsentrasi glukosa plasma (insulin resistance). Orang obesitas mempunyai risiko mengalami terkena PKV 1,5-2 x dari orang yang tidak obesitas dan antara 15-20 % dari seluruh kasus PKV.
Pada saat ini obesitas sudah menjadi epidemik baik pada Saat ini telah dikenal pemeriksaan adiponektin yang telah dibuktikan melalui suatu penelitian secara bermakna dapat membedakan ada tidaknya faktor risiko sindrom metabolik.
Pada saat ini obesitas sudah menjadi epidemik baik pada Adiponektin dikenal juga sebagai Adipocyte Complement Related Protein sebesar 30 K Da (ARCP 30, Adipo Q, apMI & GBP28). Berperan penting pada proses metabolisme termasuk regulasi glukosa, katabolisme asam lemak. Selain itu juga mempunyai efek anti inflamasi pada dinding sel pembuluh darah. Produksi & sekresinya dirangsang oleh Insuline Like Growth Factor-1 (IGF-1) dan akurasi Peroxisome Proliferata Activated Receptor Gamma (PPAR-g). Konsentrasinya diturunkan oleh tumor Necrosis Factor a (TNF-a), glukokortikoid, agonis adrenergic b & CAMP. Dalam aliran darah kadar adiponektin lebih besar dibandingkan adipokin lainnya yaitu 0,01 % dari kadar protein total (5-10mg/ml). Jadi peran adiponektin dikenal sebagai penekan kekacauan metabolisme yang menyebabkan T2DM, Obesitas, atherosclerosis & perlemakan hati yang non alkoholik.
Pada saat ini obesitas sudah menjadi epidemik baik pada Pengukuran kadar adiponektin dapat dipakai sebagai parameter untuk memprediksi adanya faktor risiko T2DM, PKV, dan sebagai indikator yang potensial keadaan-keadaan yang mendasari penyakit akibat komplikasi sindrom metabolik.
EFEK METABOLISME
- Adiponektin mempengaruhi :
- Fluktuasi Glukosa :
- gluconeogenesis
- glucose uptake
- Katabolisme lemak :
- b-oksidasi
- Bersihan trigliserida
- Disfungsi endotel
(Penting pada pembentukan atherosclerosis) - Sensitivitas insulin
- Penurunan Berat Badan
Fluktuasi Glukosa
Peranan adiponektin meningkatkan sensivitas glukosa dengan meningkatkan penggunaan glukosa di hati yang diikuti dengan penurunan kadar asam lemak bebas. Jadi adiponektin berperan pada proses homeostasis glukosa.
Katabolisme lemak
Beberapa penelitian melaporkan adanya korelasi negative antara adiponektin dengan trigliserida dan rasio kolesterol total terhadap HDL serta berkorelasi positif dengan kolesterol HDL. Adiponektin berperan meningkatkan oksidasi asam lemak dalam sirkulasi dan di otot skeletal melalui aktivasi AMP kinase.
Disfungsi Endotel
Pada keadaan hipoadiponektinemia, risiko PKV akan meningkat. Hasil beberapa penelitian menduga bahwa adiponektin secara langsung berperan dalam terjadinya disfungsi endotel & hipertensi. Adiponektin disini bersifat anti aterogenik melalui penekanan reseptor inflamasi pada endotel, menghambat proliferasi otot polos pada pembuluh darah, menghambat perubahan ekspresi molekul adhesi monosit mungkin melalui TNF. Dimana semuanya ini menyebabkan keadaan disfungsi endotel.
Sensitivitas Insulin
Adiponektin kadarnya rendah pada keadaan insuline resistance. pada suatu penelitian dikatakan kadar adiponektin plasma menurun pada obesitas dan insuline resistance. Pada otot skeletal, adiponektin meningkatkan fosforilasi reseptor insulin sehingga sensitivitas insulin meningkat. Oleh karena itu adiponektin berperan penting dalam regulasi homeostasis energi dan sensitivitas insulin.
Penurunan Berat Badan
Kadar adiponektin dalam plasma berbanding terbalik dengan BMI. Pada hipoadiponektin memiliki risiko lebih tinggi terhadap sindrom metabolik. Dengan demikian penentuan konsentrasi adiponektin dapat mendeteksi ada tidaknya faktor risiko terjadinya sindrom metabolik.
Kesimpulan :
Pada saat ini telah dikenal suatu pemeriksaan yang dapat mendeteksi ada tidaknya faktor risiko sindrom metabolik, yaitu Adiponektin.
Adiponektin merupakan indikator yang baik untuk memperkirakan terjadinya komplikasi dengan Sindrom Metabolik

