: Graha Mas Blok C-18, Jl. Raya Pejuangan, Kebon Jeruk, Jakarta Barat 11530.       : Telp: (021) 5301390, 5481608. Fax: 5485523 (Lab), 5302107 (Mkt).       : info@abclab.co.id

Pemeriksaan Laboratorium pada penyakit Covid-19

Apakah penyakit Covid-19 ?

Penyakit Covid-19 adalah sejenis penyakit influenza yang sedang menjadi pandemi, wabah di Indonesia dan juga hampir di seluruh dunia. Penyakit ini mudah menulari orang. Sebagian pasien dengan cepat masuk ke keadaan berat mulai dari sesak napas, pneumonia sampai kematian. Oleh karena itu maka timbul rasa takut dan panik dimana-mana.

Apakah penyebabnya?

Penyebabnya adalah sejenis virus yang termasuk Family Corona-viridae, virus RNA, dengan Genusnya ada corona virus alfa, beta, gamma, dan delta. Keluarga virus corona ini sudah dikenal sebagai penyebab penyakit sejenis influenza. Biasanya penyakitnya tidak berat dan umumnya sembuh dengan beberapa jenis virus corona yangpernah menjadi wabah dan menimbulkan banyak kematian, misalnya pada tahun 2002 wabah SARS (Systemic Acute Respiratory Syndrome) disebabkan oleh coronavirus beta SARS-CoV-1, lalu pada tahun 2012 corona virus beta penyebab Middle East Respiratory Syndrome (MERS). Pandemi sekarang ini yang dimulai pada akhir tahun 2019, disebabkan oleh coronavirus beta jenis baru, semula dinamakan Novel Coronavirus (2019-nCoV) dan sekarang resmi virus SARS-CoV-2. Penyakitnya sendiri dinamakan Corona virus disease tahun 2019 atau Covid-19.

Bagaimanakah cara penularan virus SARS-Cov-2?

Penyebaran virus SARS-CoV-2 umumnya adalah melalui tetesan batuk/bersin (droplet) sewaktu batuk atau bersin yang akan jatuh pada jarak 1-2 meter. Virus akan melekat sementara di permukaan benda-benda. Bila tangan
menyentuh benda-benda tersebut lalu orang tersebut menyentuh muka
menggunakan tangan tersebut maka virus dapat masuk ke dalam tubuh
melalui selaput lendir hidung, mata dan mulut.

Apa yang terjadi bila berkontak dengan virus SARS-CoV-2?

Bila seseorang berkontak dengan virus tersebut maka ada beberapa
kemungkinan. Faktor yang berperan adalah jumlah dan virulensi virus serta kekuatan sistem imun tubuh. Pertama tidak terjadi apa-apa. Kedua timbul gejala ringan sehingga orang tersebut mungkin tidak merasa sakit sama sekali. Ketiga timbul gejala sakit seperti flu ringan sampai sedang yang umumnya dapat sembuh dengan sendirinya atau dengan obat flu biasa. Keempat timbul gejala berat, sesak napas atau pneumonia yang sebagian dapat sembuh atau sebaliknya timbul penyulit sampai kematian.

Bagaimanakah virus SARS-Cov-2 menyebabkan penyakit Covid-19?

Semula virus tersebut hidup di sel-sel epitel hidung terutama bagian belakang (nasofaring) dan rongga mulut bagian belakang (orofaring). Apabila sistem imun tubuh baik dan mampu mengeradikasi virus maka orang itu tidak sakit. Tetapi bila sistem imun tubuh kurang baik maka setelah beberapa hari sebagian virus menyebar terutama ke paru, saluran cerna dan juga mungkin ke organ-organ lain. Perjalanan penyakit: setelah masa inkubasi selama 2-14 hari (rerata 5 hari), maka timbul gejala berupa (tersering) demam, sakit tenggorokan, batuk kering, sakit otot, sakit kepala, adakalanya diare, dll. Bila makin berat maka dalam waktu beberapa minggu timbul sesak, radang paru, gangguan berbagai organ tubuh sampai kematian.

Bagaimanakah klasifikasi seseorang pada penyakit Covid-19 ini?

Berdasarkan tahapan sakitnya maka dikenal ada Orang tanpa gejala (OTG), Orang dalam pemantauan (ODP), dan Pasien dalam pengawasan (PDP) serta Pasien yang sudah terkonfirmasi Covid-19.



Bagaimanakah dokter dapat mendiagnosis penyakit Covid-19?

Seperti umumnya pada penyakit lain maka diagnosis Covid-19 juga
didasarkan pada hasil pemeriksaan klinis, dan diagnosis (laboratorium dan
radiologi). Dokter perlu wawancara ada tidaknya riwayat kontak dengan pasien Covid-19, gejala sakit, obat-obatan yang sudah dimakan, serta hasil pemeriksaan fisik. Pemeriksaan radiologik berupa foto sinar Rontgen, atau CT Scan atau ultrasonografi paru. Pemeriksaan laboratorium berupa pemeriksaan darah, usapan (swab) hidung, dan lain-lain.

Pemeriksaan Laboratorium apakah yang diperlukan untuk mendeteksi seseorang terkena sakit, beratnya sakit dan sembuh?

Untuk mengetahui apakah seseorang sudah tertular virus SARS-CoV-2, maka ada pemeriksaan penyaring berupa pemeriksaan darah hematologi, dan
C-reactive protein (CRP). Pemeriksaan ini dapat dimulai pada saat timbul gejala klinis. Bila hasil hitung sel limfosit rendah dengan hitung sel segmen neutrofil normal atau meningkat sehingga rasio neutrofil/limfosit (NLR)
menjadi tinggi maka hasil tersebut mendukung kemungkinan adanya infeksi SARS-CoV-2. Juga petanda peradangan CRP biasanya meningkat. Bila
dilakukan secara berkala maka pemeriksaan penyaring ini juga baik untuk pemantauan perkembangan penyakit. Bila penyakit memberat secara klinis maka dapat diperiksa pula uji fungsi hati dan ginjal, petanda jantung, tes
pembekuan darah, dan lain-lain.

Pemastian adanya infeksi virus SARS-CoV-2 dengan deteksi adanya materi
genetik asam nukleat virus SARS-CoV-2 pada sel-sel epitel nasofaring dan
orofaring pasien. Caranya dengan melakukan usapan (swab) nasofaring dan orofaring. Bahan diperiksa dengan metoda Real Time Polymerase ChainReaction (RT-PCR). Pada cara ini RNA virus diubah jadi cDNA lalu diperbanyak ribuan-jutaan kali sehingga dapat dideteksi.

Pemeriksaan lain adalah deteksi antibodi (Ab) dalam darah terhadap SARS-CoV-2. Antibodi IgM dan IgG tersebut dibentuk oleh tubuh sebagai reaksi imun humoral terhadap masuknya virus, sifatnya spesifik artinya Ab (IgM/IgG) dibentuk terhadap virus SARS-CoV-2, dan tidak terhadap virus lain. Oleh karena itu adanya SARS-CoV-2 Ab menunjukkan bahwa tubuh sudah
kemasukan virus tersebut. Banyak tersedia metoda tes yang relatif mudah
dilakukan dan memberikan hasil langsung dalam 15 menit sehingga
dinamakan sebagai Rapid Ab test. Namun Ab tersebut baru mulai dapat
dideteksi setelah 7-10 hari dari timbulnya gejala.

Bagaimanakah penafsiran yang benar terhadap hasil pemeriksaan virus SAR-CoV-2 dengan metoda RT-PCR dan Antibodi Rapid?

Semua pemeriksaan laboratorium perlu diinterpretasikan secara benar dengan memahami perubahannya sejalan dengan proses penyakit,
keungulan dan keterbatasan metoda pemeriksaan, dan selalu perlu dikaitkan dengan kondisi klinis.

Deteksi SARS-CoV-2 dengan metoda RT-PCR dianggap sebagai baku emas. Hasil positif membuktikan adanya virus dalam tubuh pasien dan hasil negatif 2x berturutan dianggap virus sudah tiada. Akan tetapi hasil pemeriksaan tersebut masih dipengaruhi oleh banyak faktor seperti cara pengambilan, pengiriman, analisis,dll.

Tes Rapid Ab terhadap anti-SARS-CoV-2 IgM/IgG/Ig total juga mempunyai keunggulan dan keterbatasan. Hasil reaktif masih belum dapat memastikan terinfeksi, sebab dapat true reactive (positif) dan mungkin pula false reactive (adanya reaksi silang dengan virus corona yang lain, atau sisa reaksi
infeksi di masa yang lalu). Bila hasil non-reaktif juga belum dapat memastikan bahwatrue non-reactive (negatif) sebab masih mungkin false-non-reactive (masih masa jendela yang meliputi masa inkubasi dan fase awal infeksi dimana Ab belum (banyak) dibentuk, atau pasien dengan sistem imun yang kurang mampu membentuk Ab (lansia, pasien sakit kronis / berat, pasien kanker dan pengobatan kanker, pasien penyakit atau pasien penyakit
autoimun, dll).

Bagaimanakah caranya mencegah supaya tidak terkena penyakit ini?

Upaya pencegahan adalah dengan menghindari kerumunan, jaga jarak 1-2 meter antar orang (social and physical distancing), pola hidup bersih dan sehat (PHBS) (pakai masker, sering cuci tangan terutama sebelum makan, jangan menyentuh muka dengan tangan yang kotor, etika cara batuk dan bersin), makanan cukup nutrisi dan vitamin mineral. Virus SARS-CovV-2 hanya dapat hidup di dalam sel hidup; bila tidak menemui sel hidup maka virus akan mati. Oleh karena itu bila OTG/ODP /PDP melakukan isolasi diri selama 14 hari maka rantai penularan virus terputus.

Prof Dr Marzuki Suryaatmadja SpPK(K)

Leave a Reply

Close