Diagnosis Laboratorium Terhadap Penyakit Infeksi HIV Pada Orang Dewasa – 1

Bagian Satu

Artikel oleh Prof Dr Marzuki Suryaatmadja SpPK(K)

Pendahuluan

Penyakit infeksi Human Immunodeficiency virus (HIV) yang dikenal sebagai penyakit HIV sudah menjadi masalah kesehatan dunia termasuk di Indonesia. Penyakit ini dapat mengenai semua usia, memerluan perlakuan khusus, dan dapat berakibat fatal.

Bila tidak mendapatkan pengobatan khusus maka orang yang terinfeksi, dikenal sebagai orang dengan HIV (ODHA), akan masuk ke fase akhir yang dikenal sebagai Acquired Immuno Deficient Syndrome (AIDS).

Pada tulisan ini akan dibahas secara singkat mengenai berbagai aspek penyakit HIV dan secara khusus mengenai Diagnosis Laboratorium Infeksi HIV tersebut.

Riwayat penyakit infeksi HIV-AIDS

Pada tahun1981 didapatkan kasus pertama di Amerika Serikat. Sebelumnya di tahun 1970-an sudah dilaporkan banyak orang yang terjangkit semacam penyakit aneh berupa infeksi banyak jenis penyebab penyakit yang tidak biasa seperti bakteri, jamur, parasit yang berlangsung berbulan-tahun disertai dengan penurunan berat badan dan akhirnya meninggal. Barulah pada tahun 1985 diketahui bahwa semua manifestasi penyakit infeksi oportunis itu disebabkan oleh penurunan imunitas yang penyebabnya adalah virus Human Immunodeficiency virus (HIV) dan penyakitnya dinamakan Acquired Immuno Deficient Syndrome (AIDS).

Siklus hidup HIV

Ada 7 stadia dari siklus hidup HIV, yaitu: 1) pengikatan (binding), 2) perpaduan (fusion), 3) traqnskripsi balik (reverse transcription), 4) penyatuan (integration), 5) pencetakan (replication), 6) perakitan (assembly), dan 7) pertunasan (budding).

Gambar 1A. Virus HIV dengan bagian-bagiannya
Gambar 1B. Siklus hidup virus HIV dalam sel CD4

Kunci untuk istilah:

  • HIV capsid = inti HIV yang mengandung HIV RNA
  • HIV envelope = Permukaan luar dari HIV
  • HIV enzyms = protein-protein yang melaksanakan Langkah-langkah siklus hidup HIV
  • HIV glycoproteins = protein-protein “duri”yang tertanam pada HIV envelope
  • HIV RNA = materi genetik HIV

Cara penularan

HIV ditularkan melalui pertukaran cairan tubuh seperti darah, ASI, sperma, dan cairan vagina yang berasal dari orang yang terinfeksi,. Penggunaan obat antiretroviral (ART) selama kehamilan dan persalinan, serta setelah lahir, dapat membantu mengurangi risiko penularan HIV perinatal hingga menjadi kurang dari 1%. 

Cara penularannya dapat terjadi melalui:

  • Hubungan Seksual: HIV dapat ditularkan melalui hubungan seks tanpa pengaman dengan orang yang terinfeksi. 
  • Penggunaan Jarum Suntik Bersama: Mencemari jarum suntik yang sudah digunakan orang lain dapat menyebabkan penularan HIV. 
  • Dari Ibu ke Bayi: HIV dapat ditularkan dari ibu ke bayi selama kehamilan, persalinan, atau melalui ASI. 
  • Transfusi Darah: Darah yang terkontaminasi HIV dapat menyebabkan penularan jika ditransfusikan. 
Gambar 2. Cara-cara yang dapat dan tidak dapat menularkan HIV/AIDS

Stadium Infeksi HIV

Perkembangan HIV terjadi dalam 3 stadium selama beberapa bulan sampai tahun pada orang yang tidak diobati. Stadia tersebut meliputi:

  1. Infeksi HIV akut

    Stadium paling dini infeksi HIV ini umumnya berkembang dalam 2-4 minggu setelah infeksi dengan HIV. Selama masa tersebut, beberapa orang merasakan gejala seperti flu, seperti demam, sakit kepala, dan ruam. HIV berbiak dengan cepat dan menyebar.ke seluruh tubuh menyerang dan merusak sel CD4 (limfosit CD4 yang melawan infeksi)  dari sistem imun. Selama stadium ini kadar HIV di darah amat tinggi yang meningkatkan risiko transmisi HIV.

  2. Infeksi HIV kronik

    Stadium ini juga disebut infeksi HIV asimtomatik atau klinis laten. Meskipun demikian HIV terus berbiak di dalam badan pada kadar amat rendah. Tanpa pengobatan anti retrovirus (ART) infeksi HIV kronis umumnya berlanjut menjadi AIDS dalam 10 tahun atau lebih.lama, walaupun pada sebagian orang dapat lebih cepat. Bila minum obat ART orang dapat bertahan pada stadium ini sampai beberapa dekade.

  3. AIDS

    AIDS adalah stadium akhir yang paling berat dan menyebabkan kerusakan berat pada sistem imun. Akibatnya tubuh tidak dapat melawan infeksi oportunistik, juga disebut kondisi AIDS. Orang dengan HIV (ODHA) didiagnosis dengan AIDS bila mereka dengan hitung CD4 kurang dari 200 sel/uL atau ada infeksi oportunistik tertentu. Sekali HIV berkembang ke stadium AIDS, orang tersebut akan mempunyai hitung virus (viral load) tinggi dan amat mudah menulari HIV ke orang lain. Tanpa pengobatan, orang dengan AIDS secara khas bertahan hidup sekitar 3 tahun.

Gambar 3. Perkembangan HIV

Gambar menunjukkan apa yang terjadi dalam darah orang dengan HIV sepanjang stadia infeksi HIV. Tanpa pengobatan, HIV secara lambat meningkat jumlahnya dan menyerang serta merusak sel-sel CD4 normal. Kekurangan sel CD4 secara berat membatasi kemampuan sistem imun untuk memerangi infeksi lain-lain.

Infeksi HIV-AIDS sebagai masalah dunia dan juga di Indonesia

Penyakit ini telah menjadi masalah kesehatan yang berat di banyak bagian dunia termasuk di Indonesia. Di seluruh dunia diperkirakan terdapat 35 juta orang yang terinfeksi oleh HIV Dimana 19 juta daripadanya tidak menyadarinya.

Pada tahun 2017 di Indonesia tercatat ada 48,300 kasus HIV positif, dengan 9,280 diantaranya sudah masuk tahap akhir penyakit yaitu AIDS.