Diagnosis Laboratorium Terhadap Penyakit Infeksi HIV Pada Orang Dewasa – 2

Bagian Dua

Artikel oleh Prof Dr Marzuki Suryaatmadja SpPK(K)

Diagnosis Laboratorium

Pada pengujian HIV maka ketepatan (accuracy) amat penting untuk mencegah misdiagnosis. Hasil pengujian yang tidak benar berdampak serius terhadap pasien, Pelayanan pengujian HIV, Program HIV dan Kesehatan masyarakat. Diagnosis yang positif palsu menyebabkan pemberian pengobatan anti retroviral (ART) yang tidak perlu dan akibat sosial serta emosional kepada pasien dan keluarganya. Sebaliknya diagnosis yang negatif palsu berarti bahwa ada seorang ODHA yang tidak mendapatkan manfaat ART dan secara tidak sadar dapat menularkan HIV kepada pasangannya dan, bila mengenai perempuan hamil dan menyusui, kepada bayinya.

Ada 3 jenis uji laboratorium untuk HIV yaitu uji Antibodi, uji Antigen/Antibodi, dan uji Asam nukleat (nucleic acid tests = NAT). Antigen adalah zat berasal dari HIV yang menyebabkan sistem imun tubuh bereaksi membentuk antibodi. Antigen utama dari HIV adalah p24. Antibodi diproduksi secara spesifik terhadap antigen tertentu.

Uji terhadap HIV biasanya dilakukan terhadap darah dan cairan mulut atau urin.

Uji Antibodi: Uji ini mendeteksi antibodi terhadap HIV (anti-HIV). Uji dengan bahan darah vena dapat mendeteksi HIV lebih cepat daripada bila darah diambil dari ujung jari atau dengan bahan cairan mulut. Uji anti-HIV paling banyak dipergunakan. Ada yang sebagai Uji Rapid untuk penggunaan oleh orang awam, ada yang sebagai EIA (Enzyme ImmunoAssay) untuk laboratorium. Dari uji generasi ke-1 di tahun 1985 terus dikembangkan ke generasi ke-5 dengan sensitifitas yang makin baik. Dikenal anti-HIV1 dan anti-HIV2 sesuai dengan jenis virusnya..

Uji Antigen/Antibodi: Uji ini mendeteksi baik antibodi terhadap HIV maupun antigen HIV, umumnya terhadap antigen p24; sebagai uji generasi ke-4. Uji kombinasi ini dikenal sebagai uji Duo, Combo dan direkomendasikan untuk dipakai rutin di laboratorium.

Uji Asam nukleat (Nucleic acid test = NAT): Uji ini mendeteksi virusnya langsung dan juga dapat menghitung banyaknya virus di dalam darah (uji HIV viral load). Uji jenis ini yang paling dahulu dapat mendeteksi adanya infeksi HIV. Uji ini disarankan untuk orang yang disangka baru terpapar, atau kemungkinan terpapar, bila ada gejala dini HIV pada orang yang telah diuji Antibodi atau Antigen/Antibodi dengan hasil negatif.

Untuk membandingkan beberapa jenis uji tersebut dalam kemampuannya mendeteksi adanya infeksi HIV pada seseorang yang terpapar, maka perlu melihat gambar 4.

Gambar 4. Kinerja uji diagnostik pada orang dengan infeksi HIV akut

Bila menggunakan uji antibodi, anti-HIV, generasi ke-1 infeksi HIV baru terdeteksi setelah 90 hari, disebut sebagai masa jendela (window period). Dengan perbaikan teknis maka pada generasi ke-2 deteksi dapat lebih cepat dan pada generasi ke-3 deteksi lebih cepat lagi.

Pada uji generasi ke-4 anti-HIV dikombinasikan dengan Ag p24 menjadi Uji Antigen/ Antibodi, HIV dapat dideteksi setelah 15 hari dengan Ag dan baru beberapa hari kemudian menyusul anti-HIV.

Uji yang paling dini dapat mendeteksi infeksi HIV adalah uji NAT HIV RNA yaitu setelah 10 hari; masa dimana HIV RNA belum dapat dideteksi disebut sebagai masa bulan sabit (eclipse period).

Kalau pada uji generasi ke-4 hasil Ag dan Ab masih sebagai 1 hasil (tunggal) tanpa membedakan apakah Ag atau Ab, maka pada uji generasi ke-5 hasilnya sudah terpisah masing-masing Ag dan Ab.

Jenis Uji Bahan / Yang diukur Deteksi dini Lama hasil Catatan
Uji sendiri
Darah vena/jari & Swab mulut
Ab
3 bulan pasca paparan
Dalam 20 menit
Cepat dan mudah;
Bantu meluaskan jangkauan dan privacy;
Hasil HIV+ perlu konfirmasi
Uji Cepat (RDT)
Darah vena/jari & Swab mulut
Ab
4 minggu – 3 bulan pasca paparan
Dalam 20 menit
Cepat dan mudah;
Hasil HIV- dianggap definitif, HIV+ perlu konfirmasi.
EIA
Darah vena/jari
Ab & Ag
14 hari – 1 bulan pasca paparan
2.5 jam – beberapa hari
Generasi ke-4; Ukur Ab dan Ag p24 yang muncul lebih dahulu daripada Ab
NAT
Darah vena/ HIV RN
10 hari pasca paparan
Hari – minggu
Tidak rutin untuk skrining;
Adakalanya perlu Viral Load untuk pemantauan pengobatan;
Mahal;
Perlu sarana lab dan tenaga terlatih

Tabel 1. Perbandingan beberapa jenis uji terhadap HIV

Sebelum tahun 2019, WHO menyarankan agar negara-negara  dengan prevalensi >5% menggunakan strategi 2 jenis uji sedangkan bila prevalensi <5% menggunakan strategi 3 jenis uji untuk memastikan suatu hasil diagnosis HIV positif. Jenis-jenis uji yang dipakai  adalah uji cepat (Rapid diagnostic test = RDT) dan Enzyme Immuno Assay (EIA). Syarat untuk Uji pertama A1 dengan sensitifitas tinggi dan uji kedua A2 dengan spesifisitas tinggi. Pada tahun 2019, WHO menyarankan agar semua negara menggunakan strategi 3 jenis uji untuk menetapkan suatu hasil diagnosis positif. Pada strategi 3 jenis uji tersebut uji ketiga A3 juga mengutamakan spesifisitas tinggi.

Gambar 5. Algoritme strategi pengujian yang dianjurkan oleh WHO menggunakan 3 jenis uji untuk memastikan hasil positif.

Catatan: Bila hasil inkonklusif maka strategi 3 uji penuh tersebut perlu diulang pada 14 hari. Tujuannya untuk meyakinkan sudah meminimalkan misdiagnosis.

Sebagai uji konfirmasi ada uji Western Blot dan Uji NAT HIV RNA.

Uji Western Blot (WB) adalah uji konfirmasi lama untuk diagnosis virus HIV. Pertama diperkenalkan pada tahun 1991, uji ini menjadi baku emas untuk diagnosis virus HIV.

Pada uji WB tersebut, dideteksi antibodi-antibodi terhadap protein dari bagian envelope (gp41, and gp120/gp160) dan inti (p17, p24, p55) serta enzim (p31, p51, p66) dari virus HIV.  Namun sejak WHO menganjurkan Uji 3 jenis uji, uji WB tidak lagi sebagai baku emas diagnosis HIV. Hal ini disebabkan kelemahan uji WB yang memerlukan peralatan canggih, tenaga teknis yang terlatih, dan kurang sensitif untuk fase infeksi awal serta makin baiknya uji antibodi dan antigen/antibodi.

Gambar 6. Uji Western Blot

Uji NAT HIV RNA mendeteksi virus HIV secara langsung. Selain itu juga dapat mengukur jumlah virus (HIV viral load) dalam darah. Uji ini ditujukan untuk memantau perkembangan infeksi HIV dan keberhasilan pengobatan menekan jumlah virus sampai tidak terdeteksi. Pada tahap tersebut pasien dapat hidup lama, bahagia dan tidak menularkan HIV kepada pasangannya. Meskipun demikian bila pengobatan dihentikan maka HIV-nya dapat meningkat kembali.

Gambar 7. Masa (hari) uji diagnostik HIV menjadi positif

Selain algoritme pengujian HIV menurut WHO, terdapat pula algoritme yang disarankan oleh CDC Amerika Serikat dengan Langkah ke-1 dengan Uji Antigen/antibodi, bila reaktif dilanjutkan dengan langkah ke-2 dengan Uji Pembedaan antibodi untuk membedakan HIV 1 atau HIV 2, dan bila nonreaktif atau indeterminate dilanjutkan dengan langkah ke-3 dengan Uji NAT. 

Gambar 8. Algoritme Uji Laboratorium HIV dengan bahan serum/plasma (Saran CDC)

Pemeriksaan laboratorium lain yang tidak langsung menguji HIV tetapi penting adalah hitung sel CD4.

Hitung Sel CD4

Uji ini mengukur banyaknya sel limfosit CD4 dalam darah. Sel tersebut adalah bagian dari sistem imun tubuh yang memerangi infeksi. Hitung sel CD4 merupakan parameter yang baik untuk mengukur kemampuan sistem imun dan risiko terkena infeksi oportunis.

Pada remaja dan dewasa sehat kadar sel CD4 adalah 500 – 1200 sel/uL. Bila seorang ODHA dengan hitung sel CD4 <200 sel/uL, maka ia dianggap masuk tahap 3 (AIDS). Namun pengobatan ART tetap diberikan tanpa melihat kadar CD4. Pengukuran viral load HIV dilakukan untuk memantau keberhasilan pengobatan ART.

Daftar Pustaka

  1. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor HK 01. 07/MenKes/ 1936/2022 tentang Panduan Praktik Klinis Bagi Dokter di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Tingkat Pertama.
  2. Profil Kesehatan Indonesia 2023. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia Tahun 2024. https://kemkes.go.id/id/profil-kesehatan-indonesia-2023.diunduh Juni 2025.
  3. CDC. Quick Reference Guide: Recommended laboratory HIV testing algorithm for serum or plasma specimens, 2018. (https://stacks.cdc.gov/view/cdc/50872) diunduh Mei 2025.
  4. AVAC. HIV Testing for Advocates. 2022.
  5. NIH. HIV and AIDS: the Basics, 2024, https://hivinfo.nih.gov/understanding-hiv/fact-sheets/hiv-and-aids-clinical-trials, diunduh Feb 2025
  6. NIH. The HIV Life Cycle, 2021. https://hivinfo.nih.gov/understanding-hiv/fact-sheets/hiv-life-cycle, diunduh Mei 2025..
  7. NIH. The Stages of HIV Infection, 2021. https://hivinfo.nih.gov/understanding-hiv/fact-sheets/ stages-hiv-infection., diunduh Mei 2025
  8. A Timeline of HIV and AIDS. https://www.hiv.gov/hiv-basics/overview/history/hiv-and-aids-timeline. diunduh Juni 2025.
  9. Spach DH. HIV Diagnostic Testing. CME/CNE. Feb 2025.
  10. WHO. Information note Preventing HIV misdiagnosis using three-tests, 2023.