: Graha Mas Blok C-18, Jl. Raya Pejuangan, Kebon Jeruk, Jakarta Barat 11530.       : Telp: (021) 5301390, 5481608. Fax: 5485523 (Lab), 5302107 (Mkt).       : info@abclab.co.id

Food Sensitivity : Masalah Kesehatan yang penting; Cara Deteksi dan Manajemennya

Food Sensitivity :

Masalah Kesehatan yang penting; Cara Deteksi dan Manajemennya. 

Apakah yang dimaksudkan dengan Food Sensitivity?

 

Food sensitivity adalah kepekaan seseorang terhadap jenis makanan tertentu yang menimbulkan reaksi imunologis yang dapat mengganggu kesehatannya; reaksinya biasa terjadi beberapa jam atau hari kemudian. Alergen dari bahan makanan dapat menembus sel-sel saluran pencernaan (esofagus sampai usus) dan memasuki aliran darah, meningkatkan produksi molekul IgG4. Reaksi umumnya berupa reaksi inflamasi pada berbagai organ tubuh, terutama pada saluran pencernaan (yang memberikan efek mual, makanan tersangkut, sakit perut, dan sakit/kesulitan ketika menelan), kulit, ginjal, telinga, sinus, kepala, paru, dan sendi.

Apakah semua gangguan kesehatan karena makanan adalah Food sensitivity?

 

            Gangguan akibat dari makanan kepada seseorang dapat beragam. Ada orang yang tidak mengalami apa-apa, tetapi ada pula orang yang mengalami reaksi yang tidak diinginkan. Penyebabnya juga beragam, ada yang bersifat toksik (mikroba, bahan toksik, psikogenik), dan ada yang non-toksik. Penyebab non-toksik dibedakan lagi,  yang tidak diperantarai oleh reaksi imunologik adalah food intolerance (karena ketiadaan enzim, adanya bahan additif, ataufarmakologis) dan yang diperantarai oleh reaksi imunologis (melalui jalur IgE = Food allergy dan tanpa IgE tetapi dengan IgG4 = Food sensitivity).   Lihat Gambar 1.

 

 

Gambar 1. Klasifikasi Gangguan akibat reaksi terhadap makanan.

Apakah persamaan dan perbedaan antara istilah food hyper-sensitivity, allergy, sensitivity, dan intolerance?

 

Penggunaan istilah-istilah tersebut belum dibakukan dan masih ada penerapan yang berbeda.  Persamaannya semua kelainan tersebut menimbulkan masalah berupa gangguan kesehatan bagi orang yang bersangkutan yang disebabkan oleh makanan. Perbedaannya dapat didasarkan ada tidaknya peran antibodi dalam reaksi tersebut, dan jenis antibodinya. Food Allergy, adalah reaksi hipersensitivitas tipe 1 yang dimediasi oleh IgE dan Food sensitivity adalah hipersensitivitas yang dimediasi oleh IgG4. Food intolerance tanpa reaksi imunologis terhadap makanan, contohnya Intoleransi Laktosa karena tiadanya enzim laktase. Perbedaan lain adalah alergi yang dimediasi oleh IgE sudah dibentuk sejak masa bayi, reaksi berlangsung cepat, tidak tergantung dosis / kadar zat alergen dan dapat mengancam nyawa sedangkan sensitivity yang diperantarai oleh IgG4 dapat timbul pada tiap usia, reaksi berlangsung lambat, tergantung pada dosis / kadar alergen serta umumnya tidak mengancam nyawa secara langsung. Lihat Gambar 2         

Pada tulisan ini yang dibahas terutama mengenai Food sensitivity yang diperantarai oleh IgG4. Diperkirakan sebanyak 20% dari populasi manusia memiliki alergi / sensitivity terhadap bahan makanan.

Gambar 2. Perbedaan Food sensitivity dan Food Allergy

Gejala apakah yang berasosiasi dengan Food Sensitivity?

 

Makanan yang dikonsumsi terus menerus mungkin mengandung zat alergen yang menyebabkan food sensitivity, merupakan “alergi tersembunyi”. Akumulasi alergen dari makanan mungkin berdampak pada berbagai organ tubuh dan mengganggu kesehatan, suasana batin (mood), dan psikologis seseorang. Satu jenis alergen dapat menyebabkan beberapa macam gangguan. Oleh karena itu seringkali sukar membedakan apakah gangguan itu disebabkan oleh Food sensitivity ataukah oleh penyebab lain. Berikut ini adalah beberapa gejala yang mungkin terjadi pada tubuh. Lihat Tabel 1.

 

 

Tabel 1. Gejala gangguan oleh karena Food sensitivity

Faktor-Faktor apakah yang berkontribusi terhadap Food Sensitivity?

 

Faktor yang berperan terhadap food sensitivity adalah genetik (sifat yang diturunkan dari orang tua kepada anaknya), bahan alergen (dari makanan atau lingkungan), permeabilitas usus, gangguan pencernaan, ketidakseimbangan mikroba usus, dan kekurangan nutrisi tertentu.

Bagimanakah proses timbulnya Food sensitivity (patofisiologi) ?

 

Zat alergen dapat masuk melalui tubuh dengan cara ditelan, dihirup, atau diserap melalui kulit.  Di saluran cerna yang sehat jumlah alergen yang dapat menembus barrier mukosa amat terbatas. Tetapi pada kondisi tertentu misalnya adanya stress, toksin. mikroba, obat-obatan, malnutrisi organ, kebanyakan makanan maka dapat menyebabkan peradangan (inflamasi) dan mengubah struktur sel-sel mukosa usus menjadi lebih renggang (longgar) yang memudahkan zat alergen masuk menembus permukaan saluran cerna, dikenal sebagai sindrom “usus  bocor” (“leaky gut syndrome“).  Lihat Gambar 3.

Gambar 3. Mekanisme timbulnya Food sensitivity

Bagaimanakah kita dapat mendeteksi Food Sensitivity?

 

          Seperti pada penyakit lain maka diagnosis Food sensitivity dimulai dari pemeriksaan fisik, riwayat sakit, pemeriksaan laboratorium dan diagnostik lain. Khususnya anamnesis (wawancara riwayat penyakit) perlu seksama dan teliti sebab gejala sering kurang jelas.

            Cara yang penting adalah uji tantangan: zat tersangka alergen pengganggu diberikan kepada pasien. Bila timbul gejala yang tidak diinginkan maka pemberian dihentikan dan diharapkan gejala hilang. Bila zat tersebut diberikan lagi dan gejala timbul lagi maka dapat dipastikan zat tersebut merupakan alergen dari Food sensitivity.  Namun cara ini sering sukar dilakukan, memerlukan kesabaran dan lama.  Oleh karena itu sering dengan cara laboratorium.

            Cara laboratorium ada 3 macam, yaitu uji suntik (prick test), uji tempel (patch test) dan pemeriksaan darah. Pada uji suntik, larutan zat-zat alergen disuntikkan pada lengan bawah dan dilihat apakah timbul reaksi peradangan dan rasa gatal. Pada uji tempel zat-zat alergen ditempelkan pada badan, biasanya dipunggung, dan dilihat reaksinya. Zat yang memberikan reaksi dinyatakan sebagai alergen pengganggu. Kedua cara tersebut berisiko menimbulkan gangguan kepada pasien dan dapat memberikan reaksi yang membahayakan.

 

Cara laboratorium dengan pemeriksaan darah lebih menyenangkan sebab dilakukan di luar tubuh (in vitro). Dari spesimen darah dipisahkan serumnya kemudian diuji dengan berbagai zat alergen terhadap adanya antibodi terhadap zat-zat alergen tersebut. Dengan ketiga cara tersebut dapat diperiksa banyak zat alergen sekali jalan, terutama terbanyak dengan pemeriksan darah.     

Gambar 4. Pemeriksaan untuk deteksi zat alergen penyebab Food sensitivity

Metoda apakah yang digunakan di Laboratorium Klinik Utama ABC ?

 

            Untuk deteksi Food Sensitivity, Laboratorium Klinik Utama ABC menggunakan metoda In vitro immunoassay (metoda ELISA yang telah dimodifikasi) yang secara spesifik mendeteksi molekul antibodi IgG4 yang terkandung dalam darah.  Metoda ini memungkinkan untuk mendeteksi banyak alergen dalam waktu yang singkat dengan hasil yang akurat. Oleh karena itu tes ini bermanfaat sebagai pendukung diagnosis pada dugaan Food Sensitivity.

`           Selain deteksi adanya IgG4 terhadap berbagai jenis alergen, juga menyatakan keaktifannya (kadarnya) dalam  satuan kU/L, dan dinilai kelasnya. Skala reaktivitas yang tinggi menandakan tubuh bereaksi positif terhadap komponen alergen tersebut, berpotensi menimbulkan gangguan kesehatan.

            Alergen yang dipergunakan terbagi atas beberapa kelompok, yaitu Dairy, Susu, Daging, Seafood, Bahan mengandung Gluten, Kacang-kacangan, Buah-buahan,  Sayuran dan Bumbu lainnya. Seluruhnya ada 160 alergen yang diperiksa dalam 1 kali tes.   Lihat Tabel 2 dan 3.   

 

Molekul antibodi IgG4 dipilih sebagai marker karena:

·       merupakan molekul antibodi IgG yang spesifik berperan pada reaksi sensitivitas tertunda.

·       diatur oleh T-Helper 2, berperan dalam respon antigen non mikrobial; berbeda dari molekul IgG1, IgG2, dan IgG3 yang bagian dari T-Helper 1, berfungsi pada  respons antimikrobial

·       mempunyai asosiasi kuat dengan IgE karena keduanya diregulasi oleh T-Helper 2.

·       Merupakan molekul yang pertama bereaksi dan bertindak sebagai blocking antibody, melindungi individu dari reaksi berbahaya yang dimediasi oleh IgE.

·       Kadarnya dalam darah dan jaringan tergantung dari banyaknya paparan alergen dalam makanan.

·       Pemeriksaan IgG4 lebih baik /spesifik daripada IgG total untuk mendeteksi Food sensitivity.

 

 

Tabel 2. Jenis-jenis antibodi IgG4 terhadap 160 alergen makanan yang diuji

Tabel 3. Penafsiran kadar dan kelas antibodi IgG4

Bagaimanakah cara pengambilan bahan serta pengirimannya?

 

            Bahan pemeriksaan berupa darah. Tidak diperlukan persiapan puasa. Diambil 5 ml darah dalam tabung darah khusus tanpa antikoagulan, yang dikirimkan ke laboratorium dalam rentang waktu 1×24 jam pada suhu ruang. Dapat pula berupa sampel serum dan dikirimkan ke laboratorium ABC dalam rentang waktu 14 hari pada suhu 2-8oC. 

 

Apakah perlunya/manfaatnya memeriksa adanya Food sensitivity?

 

          Dengan adanya profil dari tes Food Sensitivity, dapat mengetahui jenis-jenis makanan yang keaktifannya  IgG4-nya tinggi, yang potensial merupakan alergen pengganggu bagi dirinya. Hasil pemeriksaan IgG4 dapat menjadi sarana untuk penentuan eksklusi makanan dan memperbaiki kondisi Food Sensitivity yang muncul, seperti misalnya pada kasus Eosinophilic Esophagitis, Inflammatory Bowel Diseases, dan Irritable Bowel Syndrome.

 

Diperlukan kerjasama yang baik antara pasien dan dokter untuk memastikan alergen yang sesungguhnya adalah alergen pengganggu, kemudian dapat melakukan upaya pencegahan melalui pola diet yang tepat. Dengan cara itu diharapkan dapat menjaga kesehatan baik pencernaan maupun tubuh secara menyeluruh.

Bagaimanakah manajemen Food Sensitivity?

 

Ada 2 pola pengaturan makan (diet) yang dianjurkan, yaitu Rotation Diet dan Elimination Diet. Tujuannya agar bahan makanan yang diduga merupakan alergen pengganggu   dapat dikurangi efeknya sehingga akan mencegah gangguan kesehatan yang akan terjadi.

Pada Rotation Diet makanan sehari-hari dibagi ke dalam jadwal rotasi makanan setiap 4 hari secara seimbang dan bergantian. Tujuannya agar tubuh tidak terpapar bahan makanan yang sama secara terus menerus, memberikan waktu untuk metabolisis makanan dengan lebih baik sekaligus menjaga sistem imunitas tubuh.

 

Pada Elimination Diet, dengan dibantu buku catatan dan hasil pemeriksaan, dilakukan pembatasan jenis makanan yang disangka selama 7-10 hari. Umumnya perhatian awal ditujukan kepada 4 jenis makanan dahulu. Bila gejala hilang kemungkinan alergen-alergen tersebut adalah alergen pengganggu. Namun bila gejala menetap maka perlu dilakukan pengkajian ulang. Cara-cara diet tersebut telah dilaporkan menolong pada penyakit coeliac, irritable bowel syndrome (IBS), irritable bowel disease (IBD), dan eosinophilic esophagitis (EoE). Perlu diperhatikan agar jangan sampai membatasi makanan yang sebenarnya bukan pengganggu sebab akan dapat menyebabkan kekurangan gizi.    

Kesimpulan

 

            Laboratorium Klinik Utama ABC menggunakan metoda pemeriksaan ELISA termodifikasi, yang memiliki akurasi baik untuk mendeteksi antibodi IgG4 dalam serum pasien. Teknik ini cukup sensitif mendeteksi sebanyak 160 jenis alergen untuk deteksi Food Sensitivity dari pasien dalam waktu yang relatif cepat. Dari hasil pola antibodi IgG4 tersebut dapat dilakukan pengaturan pola makan yang teliti dan tepat  agar terhindar dari gangguan Food sensitivity.  

Daftar Pustaka

  1. Nouri-Aria, KT et al. Grass pollen immunotherapy induces mucosal and peripheral IL-10 responses and blocking IgG4 activity. J Immunol 2004; 172: 3252-9
  2. Zeng Q1, Dong SY et al.; Variable food-specific IgG antibody levels in healthy and symptomatic Chinese adults; PLoS OneI, 2013, 8 (1): e53612
  3. N. Rajendran, D. Kumar; Food-specific IgG4-guided exclusion diets improve symptoms in Crohn’s disease: a pilot study; Colorectal Dis, 2011; 13(9): 1009-13.
  4. M. Mizuno et al.; Increased incidence of allergic disorders and elevated food-specific serum IgG4 levels in Japanese patients with Crohn’s disease; Allergology International, 1999; 48 (4): 247-251
  5. Ringel-Kulka T, van Tilburg M AL, et al,; Food-specific IgG4 Antibody Titers in subjects with Food Hypersensitivity, Gastroenterology, 2013; 144 (5): Suppl. 1, 928
  6. Aalberse! RC, Stapel! SO, Schuurman J, Rispens! T. Immunoglobulin G4: an odd antibody, Clin Exp Allergy, 2009; 39: 469-77
  7. Atkinson W, et al; Food elimination based on IgG antibodies in irritable bowel syndrome: a randomised controlled trial. Gut. 2004; 53(10):1459-64.
  8. Bernardi D, et al. Time to reconsider the clinical value of immunoglobulin G4 to foods? Clin Chem Lab Med. 2008;46(5):687-90.
  9. Zar S; Food-specific IgG4 antibody-guided exclusion diet improves symptoms and rectal compliance in irritable bowel syndrome. Scand J Gastroenterol. 2005;40(7):800-7.
  10. Simon, D et al. Eosinophilic esophagitis is characterized by a non-IgEmediated food hypersensitivity. Allergy, 2016; 71(5): 611-620.
  11. DST Diagnostische Systeme und Technologien GmbH, Schwerin, Germany. Personal Communication.

—ooo000+000ooo—

 

  

Leave a Reply

Close